Erick Thohir Target 100 Besar FIFA, Uji Coba November Bisa Pindah dari Timur Tengah
Erick Thohir akhirnya buka suara soal target besar berikutnya Timnas Indonesia. Bukan cuma juara ASEAN, bukan cuma Piala Asia 2027. Targetnya: menembus 100 besar ranking FIFA sebelum kualifikasi Piala Dunia 2030 dimulai.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum PSSI yang juga Menteri Pemuda dan Olahraga tersebut di Balai Kota Solo, Senin (12/10/2026). Dan yang menarik, bukan cuma soal angka — Erick juga membuka kemungkinan besar: lokasi uji coba FIFA Matchday November 2026 yang semula di Timur Tengah bisa direvisi.
Buat Indonesia yang baru saja merasakan manisnya gelar FIFA ASEAN Cup 2026, ini kabar yang bikin penasaran. Mau dibawa ke mana sebenarnya skuad Garuda ini?
Apa yang Dikatakan Erick Thohir di Solo
Biar nggak simpang siur, kita rangkum pernyataan Erick Thohir soal rencana besar PSSI:
- Target resmi: 100 besar FIFA. Indonesia saat ini berada di peringkat 116 dunia — posisi terbaik dalam 20 tahun terakhir setelah menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Erick menegaskan peningkatan ranking adalah perhatian serius PSSI karena tahapan kualifikasi Piala Dunia 2030 sudah mulai bergulir September 2027.
- Lawan yang dicari: yang peringkatnya lebih tinggi. Erick menyebut pelatih John Herdman selalu ingin menguji pemain lewat pertandingan melawan negara yang posisinya lebih baik di ranking dunia. Bukan cari lawan yang gampang dikalahkan.
- November 2026: rencana tandang. FIFA Matchday November nanti direncanakan di luar kandang — supaya pemain terbiasa dengan atmosfer dan tekanan bermain di markas lawan, menghadapi format home-and-away yang akan dihadapi di kualifikasi Piala Dunia.
- Opsi Timur Tengah bisa direvisi. Kawasan Timur Tengah semula jadi opsi utama untuk laga tandang November, tapi PSSI kini mengevaluasi ulang karena situasi keamanan di kawasan tersebut yang disebut Erick "cukup mengkhawatirkan". Negosiasi masih berjalan, keputusan belum final.
"Tentu untuk timnas ini sekarang bagaimana bisa menembus angka 100 besar," kata Erick singkat, seperti dikutip Fokus Jateng.
Kenapa Target 100 Besar Itu Bukan Cuma Gengsi
Sebagian suporter mungkin mikir: ranking FIFA itu cuma angka, yang penting menang. Nggak salah, tapi buat PSSI angkanya punya fungsi yang sangat praktis.
Pertama, jadwal kualifikasi Piala Dunia 2030. Babak kualifikasi mulai September 2027, artinya Indonesia punya waktu kurang dari setahun — tepatnya sekitar 11 bulan — untuk menaikkan peringkat dari 116 ke 100 besar. Itu 16 tangga yang harus didaki, dan dalam dunia ranking FIFA, 16 tangga di zona 100-120 bukan perkara gampang.
Kedua, ranking berpengaruh ke undian dan pot kualifikasi. Makin tinggi peringkat, makin kecil peluang Indonesia terundi satu grup dengan raksasa-raksasa Asia di babak awal. Buat tim yang mau lolos ke Piala Dunia, undian itu separuh perjuangan. Indonesia yang berada di pot yang lebih baik otomatis mendapat jalan yang sedikit lebih lapang.
Ketiga, ada efek psikologis dan nilai jual. Lawan yang lebih kuat mau diajak uji coba kalau peringkat Indonesia masuk akal. Tim peringkat 90-an enggan membuang satu slot FIFA Matchday untuk lawan yang terlalu jauh di bawahnya. Masuk 100 besar membuka pintu pertandingan yang selama ini sulit didapat: uji coba melawan tim Eropa kelas menengah atau Amerika Latin yang biasanya cuma mimpi.
Untuk konteks, Indonesia kini berdiri sebagai tim ASEAN dengan peringkat FIFA terbaik — posisi yang lima tahun lalu terasa mustahil. Thailand dan Vietnam, dua rival abadi yang dulu selalu berada di atas, kini menatap dari bawah. Inilah modal psikologis yang membuat target 100 besar terasa masuk akal, bukan sekadar omongan pejabat. Ketika sebuah tim sudah membuktikan bisa mengalahkan yang terbaik di kawasan, langkah berikutnya memang harus menantang yang terbaik di benua.
Strategi Lawan Kuat: Risiko yang Diambil Herdman
Bagian paling menarik dari pernyataan Erick adalah soal filosofi uji coba Herdman. Pelatih asal Inggris itu tidak mau skuad Garuda cuma sibuk mengumpulkan kemenangan melawan tim yang jauh di bawahnya.
Logikanya masuk akal kalau paham cara kerja poin ranking FIFA. Kemenangan atas tim yang peringkatnya jauh lebih rendah cuma memberi poin kecil. Sebaliknya, hasil imbang atau kemenangan atas tim berperingkat lebih tinggi memberi poin jauh lebih besar — bahkan kekalahan tipis dari tim kuat tidak terlalu menghukum poin.
Jadi strategi Herdman itu sederhana tapi berani: cari lawan yang lebih kuat, terima risikonya, panen poinnya. Ini juga cara mempercepat adaptasi pemain. Garuda sudah juara ASEAN, lawannya di Piala Asia 2027 dan kualifikasi Piala Dunia adalah Jepang, Qatar, dan tim-tim yang jauh di atas level ASEAN. Kalau uji cobanya masih selevel ASEAN, persiapan jadi tidak relevan.
Bedakan dengan cara lama federasi dulu-dulu yang sering kali lebih peduli catatan "tak terkalahkan" demi citra. Herdman justru memilih jalur sulit. Dan ini sinyal bagus: targetnya bukan lagi jadi raja ASEAN, tapi jadi penantang Asia.

Lokasi Timur Tengah Dievaluasi: Apa Artinya Buat Jadwal November?
Nah, ini bagian yang bikin banyak penggemar garuk-garuk kepala. Sejak awal Oktober, Offside Zone sempat melaporkan rencana uji coba Timnas senior melawan Yordania pada 13 November 2026 di Amman. Itu sesuai dengan opsi Timur Tengah yang disebut Erick sebagai "opsi utama".
Tapi pernyataan terbaru Erick membuka kemungkinan semua rencana itu direvisi. Alasannya murni keselamatan: "Saya juga mempertimbangkan keselamatan pelatih, pemain kita," katanya.
Beberapa catatan penting dari sudut pandang redaksi:
- Ini bukan pembatalan, ini evaluasi. Erick tegas menyebut masih ada negosiasi dan beberapa opsi. Artinya laga tandang November tetap jalan, cuma lokasi dan lawannya yang mungkin berubah.
- Keamanan bukan alasan dibuat-buat. Bermain di kawasan yang sedang tidak stabil berarti risiko logistik, risiko keselamatan, dan risiko pembatalan mendadak yang justru merusak persiapan. Federasi yang bertanggung jawab memang harus berani memindahkan pertandingan kalau situasinya tidak kondusif.
- Opsi alternatifnya menarik untuk ditebak. Kalau bukan Timur Tengah, ke mana? Asia Tengah seperti Uzbekistan atau Kirgistan yang peringkatnya di atas Indonesia? Atau malah tur ke Eropa menghadapi tim peringkat 80-100? Pilihan lokasi akan menentukan kualitas lawan — dan kualitas lawan menentukan seberapa cepat target 100 besar tercapai.
Yang jelas, keputusan final ada di tangan PSSI setelah negosiasi selesai. Buat suporter, yang penting laga November tetap terlaksana dengan lawan berkualitas, di mana pun lokasinya.
Tantangan Nyata Menuju 100 Besar
Supaya tidak cuma euforia, mari kita jujur soal tantangannya. 16 peringkat dalam 11 bulan itu target yang ambisius, dan ada beberapa hal yang bisa menghambat:
Pertama, jadwal FIFA Matchday yang terbatas. Indonesia tidak bisa menambah pertandingan seenaknya — slot internasional sudah ditentukan FIFA. Artinya setiap laga harus dimaksimalkan. Satu hasil buruk di uji coba melawan tim kuat memang tidak terlalu menghukum, tapi satu kekalahan dari tim yang seharusnya dikalahkan bisa menghapus poin yang dikumpulkan susah payah.
Kedua, kualitas lawan harus benar-benar lebih tinggi. Uji coba melawan tim peringkat 100-110 yang sedang tidak dalam performa terbaik memberi poin lebih kecil dibanding mengalahkan tim peringkat 70-90 yang sedang on fire. PSSI harus pintar-pintar memilih lawan: kuat di atas kertas, tapi masih bisa dilawan oleh skuad Garuda saat ini.
Ketiga, konsistensi skuad. Kabar baiknya, Herdman sedang menanti kembalinya tiga pilar cedera: Mees Hilgers, Miliano Jonathans, dan Marselino Ferdinan. Kalau ketiganya pulih tepat waktu untuk agenda November, kedalaman skuad Garuda naik signifikan. Tapi kalau cederanya kambuh atau adaptasinya lambat, rencana besar ini bisa goyang.
Keempat, faktor non-teknis. Keamanan lokasi, logistik perjalanan jauh, hingga adaptasi cuaca — semua memengaruhi performa. Makanya keputusan Erick memprioritaskan keselamatan pemain itu tepat: tim yang kelelahan karena perjalanan kacau tidak akan bisa bermain maksimal, apalagi menang.
Prediksi Redaksi: Ke Mana Arah Langkah PSSI?
Kalau boleh menebak arah langkah PSSI berdasarkan pernyataan Erick ini, ada tiga skenario yang paling masuk akal:
Skenario 1: Tetap di Timur Tengah, tapi bukan Yordania. Kawasan ini luas. Kalau satu negara dinilai kurang aman, negara lain di kawasan yang sama bisa jadi alternatif — asalkan lawannya tetap berkualitas dan peringkatnya di atas Indonesia.
Skenario 2: Pindah ke Asia Tengah atau Asia Timur. Uzbekistan, misalnya, adalah lawan yang ideal di atas kertas: peringkat jauh lebih baik, gaya main Eropa-Timur yang menguji fisik, dan relatif aman. Laga tandang ke sana juga memberi pengalaman atmosfer yang berbeda dari Timur Tengah.
Skenario 3: Uji coba ganda dengan kombinasi lawan. Satu laga melawan tim yang lebih kuat untuk menguji mental, satu laga melawan tim selevel untuk menjaga kepercayaan diri dan mengamankan poin. Ini pola yang sering dipakai federasi lain dan cukup masuk akal untuk menyeimbangkan ambisi dan realisme.
Apapun skenarionya, satu hal yang patut diapresiasi: PSSI akhirnya bicara target yang terukur. Bukan sekadar "kita harus menang" atau "kita harus juara", tapi angka konkret — 100 besar — dengan tenggat waktu yang jelas — sebelum September 2027 — dan strategi yang masuk akal — lawan kuat dan laga tandang.
Buat Indonesia yang 20 tahun terakhir cuma bisa bermimpi soal ranking tiga digit, target ini adalah pernyataan sikap. Garuda tidak mau lagi jadi tim yang senang dengan status quo. ASEAN sudah ditaklukkan. Sekarang saatnya menatap papan atas Asia.
Dan kalau target 100 besar ini tercapai? Jangan kaget kalau mimpi yang lebih besar — Piala Asia 2027 dan kualifikasi Piala Dunia 2030 — tiba-tiba terasa jauh lebih dekat.
Baca juga: Resmi: Ranking FIFA Indonesia Naik ke 116 Dunia, Terpaut Tipis dari Tanzania dan Kapan Timnas Indonesia Main Lagi? Lawan Yordania 13 November di Amman.
Ditulis oleh Bang Sat, redaksi Offside Zone.
Belum ada Komentar untuk "Erick Thohir Target 100 Besar FIFA, Uji Coba November Bisa Pindah dari Timur Tengah"
Posting Komentar