Hasil Isenmulang vs Persebaya 0-1: Penalti Alex Martins di Menit 45+3, VAR Jadi Bintang Malam Itu

Hasil Isenmulang vs Persebaya 0-1: Penalti Alex Martins di Menit 45+3, VAR Jadi Bintang Malam Itu

Bandar Lampung tidak menjadi malam yang bersahabat buat tuan rumah. Isenmulang Kalteng FC harus menelan kekalahan tipis 0-1 dari Persebaya Surabaya pada pekan keempat BRI Super League 2026/2027, Jumat (9/10/2026) malam. Gol tunggal kemenangan Green Force lahir dari titik putih, dicetak Alex Martins Ferreira pada menit ke-45+3, tepat sebelum turun minum.

Buat yang cuma lihat skor akhir, ini tampak seperti kemenangan biasa. Biasa saja, memang. Tapi buat yang menonton sembilan puluh menit penuh, laga ini justru salah satu yang paling janggal musim ini: tiga keputusan VAR dalam satu pertandingan, satu penalti yang dikasih lalu dibatalkan, dan tuan rumah yang pulang tanpa satu pun tembakan tepat sasaran.

Drama VAR: Tiga Keputusan dalam Satu Babak

Cerita malam itu dimulai pada menit ke-12. Persebaya sempat merayakan gol, tapi selebrasi mereka dipotong wasit Axel Febrian Sinaga yang meninjau VAR dan menganulirnya. Belum ada yang tahu persis apa yang terlihat di monitor, tapi dari gestur wasit, keputusannya cukup tegas. Skor kembali 0-0, dan Isenmulang dapat napas lagi.

Napas itu ternyata tidak lama. Menjelang babak pertama berakhir, tepatnya menit ke-45, VAR kembali memanggil wasit. Kali ini keputusannya menguntungkan tamu: penalti untuk Persebaya. Alex Martins Ferreira maju sebagai eksekutor dan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Bola meluncur ke gawang, Adre Arido mati langkah. Gol di menit 45+3, waktu yang paling menyakitkan buat tim yang kebobolan, karena jeda tinggal menghitung detik dan tidak ada waktu buat membalas.

Babak kedua berjalan lebih tenang, tapi drama belum selesai. Pada menit ke-90, giliran Isenmulang yang mendapatkan penalti. Stadion PKOR Sumpah Pemuda sempat bergemuruh, satu tendangan bisa menyelamatkan satu poin di kandang. Lalu VAR bicara lagi. Wasit meninjau ulang, dan penalti itu dibatalkan. Bayangkan rasanya: dari euforia calon penyelamat, dalam hitungan menit jadi kekosongan. Pertandingan berakhir 0-1, dan tiga keputusan teknologi itu jadi bahan obrolan utama seusai laga.

Kalau dipikir-pikir, ini semacam gambaran kecil ke mana arah Super League musim ini. Wasit Indonesia dulu sering jadi bulan-bulanan karena keputusan kontroversial yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sekarang, dengan VAR, setiap keputusan besar bisa ditinjau ulang dan setiap tinjauan bisa diperdebatkan ulang. Axel Febrian Sinaga malam itu berani menganulir penalti tuan rumah di menit ke-90, keputusan yang butuh nyali besar di depan ribuan suporter yang sudah terlanjur merayakan. Mau setuju atau tidak dengan keputusannya, keberanian untuk mengoreksi diri sendiri di depan layar monitor itu hal yang patut dihargai. Masalahnya, VAR hanya sebagus operator dan wasit yang menggunakannya. Tiga intervensi dalam satu laga juga bisa dibaca sebaliknya: wasit lapangan terlalu sering ragu, sampai harus diselamatkan teknologi. Keseimbangan antara ketegasan wasit dan bantuan teknologi masih jadi pekerjaan rumah liga ini.

Wasit meninjau VAR dalam laga Isenmulang vs Persebaya yang penuh drama keputusan teknologi

Statistik: Dominasi Tanpa Efisiensi, Disiplin Tanpa Gigi

Angka-angka pertandingan bercerita dengan jujur. Penguasaan bola imbang 50-50, pelanggaran 14-13, offside 1-2. Semua terlihat seimbang, sampai kamu melihat satu baris: tembakan tepat sasaran 0-5 untuk keunggulan Persebaya.

Nol. Tuan rumah tidak sekalipun memaksa Ernando Ari melakukan penyelamatan. Bukan cuma sial, itu gejala. Isenmulang bermain disiplin, struktur pertahanannya rapi, tapi begitu bola melewati garis tengah, semuanya buntu. Kenji Nishioka, Adilson Silva, dan Vinicius Baiano bekerja keras, tapi kerja keras tanpa tembakan tepat sasaran itu cuma lari-lari di tempat.

Di sisi lain, Persebaya juga tidak bisa dibilang tampil meyakinkan. Lima tembakan tepat sasaran dari sembilan puluh menit bukan angka yang bikin pelatih lawan ketakutan. Bedanya, satu dari lima itu masuk, dan itu cukup. Bernardo Tavares mungkin tidak peduli betapa jeleknya kemenangan ini terlihat di statistik. Tiga poin adalah tiga poin.

Isenmulang: Rapat di Belakang, Buntu di Depan

Ada hal yang patut diapresiasi dari tim asuhan Mundari Karya. Kebobolan cuma satu gol, itu pun penalti di ujung babak pertama, melawan tim sekelas Persebaya bukan hasil yang memalukan. Lini belakang yang diisi Douglas Cruz, Rafael Ribeiro, dan Leo Lelis tampil cukup tenang menghadapi tekanan Saddil Ramdani dan Miguel Pereira.

Tapi sepak bola bukan cuma soal tidak kebobolan. Masalah Isenmulang malam itu jelas: transisi. Setiap kali merebut bola, serangan mereka kandas sebelum jadi ancaman. Modou Manneh yang diganjar kartu kuning di menit ke-16 lebih banyak terlihat dalam duel fisik daripada kreasi. Tanpa suplai yang jelas ke lini depan, striker mereka terisolasi dan perlahan frustrasi.

Yang paling menyakitkan tentu momen menit ke-90. Penalti yang dibatalkan VAR itu bukan cuma soal satu poin yang hilang. Itu soal momentum psikologis. Tim yang sudah berjuang sembilan puluh menit, lalu diberi harapan, lalu harapannya dicabut, biasanya butuh waktu buat pulih. Mundari Karya punya pekerjaan rumah besar: bukan cuma taktik, tapi juga mental pemainnya.

Ada satu hal yang menarik dari susunan pemain Isenmulang malam itu. Nama-nama seperti Douglas Cruz, Rafael Ribeiro, dan Leo Lelis di lini belakang menunjukkan tim ini dibangun dengan fondasi asing yang cukup solid di sektor pertahanan. Tapi di depan, ketergantungan pada Adilson Silva dan Vinicius Baiano belum membuahkan hasil. Pergantian Sergio Mendonça di menit ke-67 dan Ramadhan di menit ke-85 tidak mengubah apa-apa. Ini bukan soal satu pemain yang tampil buruk, ini soal sistem serangan yang tidak menghasilkan peluang. Kalau polanya terus seperti ini, Mundari Karya mungkin harus berani mengubah pendekatan: main lebih direct, manfaatkan bola mati, atau kasih kebebasan lebih ke pemain sayap. Bertahan rapi itu fondasi yang bagus, tapi fondasi tanpa atap tetap kehujanan.

Persebaya: Kemenangan Hemat, Ambisi yang Tidak Hemat

Sekarang lihat dari sisi tamu. Persebaya datang ke Bandar Lampung dengan misi yang jelas: tidak boleh terpeleset lagi. Tavares sendiri sebelum laga mengakui timnya kehilangan tiga poin di laga kandang sebelumnya karena kebobolan di menit akhir dari situasi sepak pojok. Misi balas dendam atas diri sendiri itu berhasil, meski caranya tidak indah.

Ini kemenangan ke-2 Persebaya musim ini, dan yang lebih penting: mereka masih belum terkalahkan. Dua menang, dua imbang, delapan poin dari empat laga. Di klasemen yang sedang diperebutkan ketat oleh Dewa United, Madura United, dan Persija, catatan tanpa kekalahan itu modal yang sangat berharga. Tim yang tidak kalah tidak perlu mengejar, cukup menunggu yang di depan terpeleset.

Alex Martins Ferreira kembali jadi pembeda. Penalti memang bukan gol dari open play, tapi eksekusi di bawah tekanan menit 45+3 butuh ketenangan yang tidak semua striker punya. Satu momen, satu gol, tiga poin. Kadang sepak bola sesederhana itu.

Tapi ada catatan yang tidak boleh diabaikan Tavares. Persebaya terlalu bergantung pada momen. Gol yang dianulir VAR di menit ke-12 menunjukkan mereka bisa menciptakan peluang, tapi konversinya masih jadi masalah. Melawan tim yang pertahanannya lebih disiplin dari Isenmulang, satu penalti mungkin tidak akan datang. Dan Ernando Ari tidak akan selalu sepi seperti malam ini.

Yang menarik, justru cara Persebaya menang ini mengingatkan pada pola tim-tim juara: tidak selalu dominan, tapi tahu cara pulang dengan tiga poin. Musim masih panjang, dan tim yang konsisten mencuri poin tandang seperti ini biasanya yang bertahan di papan atas sampai akhir.

Secara taktik, ada satu hal yang patut dicatat dari cara Tavares menyusun timnya malam itu. Lini tengah yang diisi Gledson, Toni Firmansyah, dan Diogo Ramalho bukan trio yang flamboyan, tapi mereka memenangi duel-duel penting di area sentral. Ramalho bahkan harus ditarik keluar di awal babak kedua setelah mengantongi kartu kuning di menit ke-34, digantikan Risto Mitrevski, dan struktur tim tidak runtuh. Itu tanda skuad yang punya kedalaman, bukan cuma sebelas pemain inti. Masuknya Malik Risaldi menggantikan Saddil Ramdani di menit ke-67 juga menunjukkan Tavares tidak takut mengubah rencana di tengah jalan. Fleksibilitas seperti ini yang membedakan pelatih yang cuma punya satu rencana dengan pelatih yang siap untuk musim panjang.

Apa Artinya Buat Pekan-Pekan Berikutnya

Hasil ini menempatkan Persebaya di posisi yang nyaman untuk terus mengintai puncak. Delapan poin dari empat laga, tanpa kekalahan, dengan pertahanan yang baru kebobolan sedikit. Sementara itu, duel sesungguhnya di papan atas akan tersaji Minggu (11/10/2026) malam: Persib Bandung menjamu Dewa United di GBLA. Hasil laga itu akan menentukan apakah Persebaya naik ke posisi yang lebih baik atau justru makin tertinggal.

Jumat malam kemarin sebenarnya penuh cerita buat pekan keempat. Di laga sore harinya, Persik Kediri menang 2-0 atas Madura United lewat brace Eduardo Barbosa, hasil yang mengakhiri rekor tak terkalahkan Laskar Sape Kerrab. Dua laga, dua tim tak terkalahkan yang tumbang atau tertahan dalam satu hari. Itu gambaran betapa tidak ada yang aman di Super League musim ini. Tim yang kemarin di atas bisa turun besoknya, dan tim yang sabar mengumpulkan poin seperti Persebaya diam-diam merangkak naik tanpa banyak suara.

Buat Isenmulang, kekalahan ini harus jadi alarm. Bukan alarm panik, tapi alarm yang jujur. Struktur pertahanan mereka cukup bagus untuk bersaing, tapi lini depan butuh solusi cepat. Bursa transfer sudah tutup, jadi solusinya harus datang dari dalam: entah perubahan peran, entah keberanian memainkan skema yang lebih agresif di kandang. Main aman di kandang sendiri dan kalah 0-1 itu kombinasi terburuk, tidak dapat poin, tidak dapat hiburan.

Dan satu hal terakhir soal VAR. Tiga keputusan dalam satu laga, semuanya mengubah jalannya pertandingan. Ada yang bilang ini kemajuan, ada yang bilang ini merusak ritme. Tapi satu hal pasti: wasit-wasit Super League sekarang tidak bisa lagi bersembunyi di balik keputusan sepihak. Setiap keputusan besar akan ditinjau, dan setiap tinjauan akan diperdebatkan. Buat penonton, ini era baru. Buat tim seperti Isenmulang yang jadi korban keputusan malam ini, ini malam yang ingin cepat dilupakan.

Artikel Terkait

Ditulis oleh Bang Sat, redaksi Offside Zone.





Belum ada Komentar untuk "Hasil Isenmulang vs Persebaya 0-1: Penalti Alex Martins di Menit 45+3, VAR Jadi Bintang Malam Itu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel