Hasil Liverpool vs Manchester City 0-3: Anfield Dibungkam, City Menang di Laga Pertama Usai Vonis Bersalah

Hasil Liverpool vs Manchester City 0-3: Anfield Dibungkam, City Menang di Laga Pertama Usai Vonis Bersalah

Pertandingan yang ditunggu-tunggu semua orang akhirnya selesai — dan hasilnya mungkin justru membuat segalanya makin tidak nyaman. Manchester City membungkam Anfield dengan kemenangan 3-0 atas Liverpool pada Minggu (11/10/2026) malam WIB, dalam laga pertama mereka sejak dinyatakan bersalah melanggar aturan keuangan Premier League.

Tiga gol di babak kedua — Erling Haaland menit 65, Jérémy Doku menit 68, dan Rayan Cherki menit 78 — memastikan City melanjutkan start sempurna mereka: enam kemenangan dari enam laga, 18 poin, tiga poin di depan Arsenal. Liverpool menelan kekalahan liga pertama musim ini dan tercecer ke peringkat sembilan.

Tapi skor 0-3 bukan cerita sebenarnya malam itu. Cerita sebenarnya adalah soal kartu merah, soal teriakan "Cheat! Cheat! Cheat!" yang menggema di tribun, dan soal sebuah tim yang memenangkan pertandingan sambil menanti vonis hukumannya sendiri.

Selebrasi pemain Manchester City usai membobol gawang Liverpool di Anfield

Jalannya Laga: 62 Menit yang Seimbang, Lalu Semuanya Runtuh

Babak pertama berjalan panas — dalam arti harfiah. Tercatat 18 pelanggaran dalam 45 menit pertama, terbanyak di Anfield sejak duel Liverpool vs Arsenal pada November 2021. Atmosfernya terasa seperti final, bukan laga pekan keenam.

Liverpool memulai dengan agresif. Anak asuh Andoni Iraola menekan tinggi sejak menit awal, dan City sempat terlihat goyah. Peluang terbaik babak pertama justru lahir dari kaki pemain City: umpan mendatar Antoine Semenyo melintasi kotak penalti tanpa bisa disambar siapa pun. Skor 0-0 bertahan hingga turun minum, dan untuk sementara Anfield masih percaya diri.

Tekanan Liverpool berlanjut di awal babak kedua. Gianluigi Donnarumma dipaksa bekerja keras: dia menggagalkan peluang Lewis Koumas dan Ryan Gravenberch dalam rentang waktu singkat, lalu Alexis Mac Allister melepaskan tendangan melengkung yang meleset tipis dari gawang. Haaland bahkan menyia-nyiakan peluang emas setelah lolos dari umpan terobosan Semenyo. Laga ini, seperti yang kami ulas sebelum kick-off, memang berjalan ketat dan penuh tensi.

Lalu menit ke-62 mengubah segalanya.

Gravenberch menjatuhkan Doku yang baru masuk sebagai pemain pengganti. Wasit langsung mengeluarkan kartu kuning kedua. Gelandang asal Belanda itu keluar lapangan, Liverpool bermain dengan 10 orang, dan Anfield yang sebelumnya berisik mendadak terdiam oleh firasat buruk.

Tiga menit kemudian, firasat itu terbukti. Tembakan Doku yang terdefleksi jatuh ke kaki Haaland, dan striker Norwegia itu menghantamnya dengan kaki kiri melewati Alisson Becker. 1-0 untuk City.

Tiga menit berselang, giliran Doku sendiri yang mencetak gol. Aksi individu yang indah: dia memperlambat tempo, menusuk ke dalam dengan kaki kanan, lalu melengkungkan bola ke sudut jauh melewati jangkauan Alisson. Gol kelas dunia — 2-0.

Pukulan pamungkas datang di menit 78. Gol ketiga City lahir dari rangkaian 41 umpan tanpa putus — rangkaian terpanjang yang berujung gol di Premier League sejak gol Phil Foden ke gawang Nottingham Forest pada September 2023 yang melibatkan 46 umpan. Josko Gvardiol menyontek bola dengan tumit, Cherki memotong ke dalam melewati Jeremie Frimpong yang tergelincir, lalu menaklukkan Alisson dengan penyelesaian dingin. 3-0. Selesai sudah.

Doku: Man of the Match dari Bangku Cadangan

Kalau ada satu nama yang pantas jadi tajuk utama selain skornya, itu Jérémy Doku. Pemain sayap Belgia itu masuk dari bangku cadangan saat skor masih 0-0 — dan 12 menit kemudian City sudah unggul 2-0 sementara Liverpool kehilangan satu pemain. Doku terlibat langsung di ketiga peristiwa penentu malam itu: dia yang dilanggar Gravenberch hingga berbuah kartu merah, tembakannya yang terdefleksi menjadi assist tak langsung untuk gol Haaland, dan dia sendiri yang mencetak gol kedua lewat aksi individu memukau.

Statistik akhir bicara jelas: penguasaan bola 35%-65% untuk keunggulan City, tembakan 13-15, tembakan tepat sasaran 6-4. Liverpool sebenarnya tidak kalah jauh dalam jumlah percobaan — mereka bahkan sempat mendominasi fase-fase awal babak kedua. Tapi begitu jumlah pemain timpang, kualitas peluang City naik kelas sementara Liverpool kehabisan cara untuk keluar dari tekanan.

Yang menarik: Doku bukan starter malam itu. Keputusan Enzo Maresca menyimpannya sebagai kartu truf di babak kedua terbukti menjadi keputusan yang memenangkan pertandingan. Ini manajemen skuad kelas juara — punya pemain sekelas Doku yang bisa masuk dan mengubah laga dalam hitungan menit adalah kemewahan yang tidak dimiliki banyak tim, bahkan Liverpool sekalipun.

Kenapa Liverpool Bisa Kalah Sebesar Ini di Kandang Sendiri

Mari jujur: kartu merah Gravenberch memang titik balik, tapi kekalahan ini bukan semata soal keputusan wasit. Ada masalah yang lebih dalam di kubu Liverpool, dan menutupinya dengan menyalahkan wasit hanya akan menunda perbaikan.

Pertama, soal disiplin. Kartu kuning kedua Gravenberch — terlepas dari debat apakah keputusannya "terlalu keras" atau tidak — adalah pelanggaran yang sebenarnya bisa dihindari di menit 62 dalam laga yang masih 0-0. Seorang gelandang sekelas dia, yang sudah mengantongi kartu kuning, harus tahu kapan waktunya menarik kaki dan kapan waktunya membiarkan lawan lewat. Satu momen ceroboh, dan seluruh rencana permainan 90 menit hancur berantakan. Ini bukan kesialan; ini kecerobohan.

Kedua, penguasaan bola hanya 35% di kandang sendiri. Ini Anfield — stadion yang terkenal membuat tim tamu sesak napas. Tapi Liverpool-nya Iraola justru membiarkan City mendominasi bola dua pertiga waktu pertandingan. Strategi bertahan, menunggu, dan mengandalkan serangan balik memang bisa berhasil — tapi strategi seperti itu menuntut kesempurnaan eksekusi dan, yang paling penting, 11 pemain di lapangan. Begitu jumlah pemain timpang, tidak ada lagi fondasi untuk bertahan. City tinggal memutar bola, menunggu celah, dan menghukum.

Ketiga, ini adalah kekalahan ketiga beruntun Liverpool dari Manchester City — sesuatu yang tidak terjadi sejak tahun 1937, menurut data yang ditampilkan siaran NBC. Hampir 90 tahun. Artinya ini bukan kecelakaan satu malam atau sekadar nasib buruk. Ada kesenjangan kualitas dan kedalaman skuad yang nyata antara kedua tim saat ini, dan Iraola belum menemukan jawabannya. Tiga pertemuan, tiga kekalahan — polanya sudah terlalu jelas untuk disebut kebetulan.

Liverpool kini terdampar di peringkat sembilan. Untuk klub sebesar Liverpool, dengan sejarah dan ekspektasi yang mereka bawa, itu adalah posisi yang membuat kursi pelatih mulai terasa hangat — bahkan di bulan Oktober sekalipun.

"Cheat! Cheat! Cheat!": Pertandingan di Luar Pertandingan

Yang membuat laga ini bersejarah bukan cuma skornya. Ini adalah pertandingan pertama Manchester City sejak komisi independen menyatakan mereka bersalah atas 114 pelanggaran aturan keuangan Premier League — skandal terbesar dalam sejarah 34 tahun kompetisi ini, dengan periode pelanggaran 2009 hingga 2018.

Sejak menit pertama, setiap sentuhan pemain City disambut siulan memekakkan telinga. Menjelang peluit akhir, seluruh tribun Anfield meneriakkan "Cheat! Cheat! Cheat!" secara serempak. City sudah mengajukan banding dan bersikeras tidak bersalah, tapi vonis bersalah sudah dijatuhkan — dan sanksi resminya masih menunggu sidang terpisah yang jadwalnya belum ditentukan.

Alan Shearer, pencetak gol terbanyak sepanjang masa Premier League, tidak menahan diri mengomentari situasi ini. Dia menyebut penundaan penjatuhan hukuman sebagai "bad look" — citra buruk — bagi sepak bola Inggris, dan memperingatkan bahwa "tingkat permusuhan" suporter lawan terhadap City akan terus "naik" di setiap laga tandang musim ini. "Ini adalah hal terbesar yang terjadi di Premier League sejak kompetisi ini dimulai tahun 1992," katanya. Anfield tadi malam membuktikan peringatannya tepat seratus persen.

Soal hukuman, spekulasinya liar dan makin panas. Presenter talkSPORT Alan Brazil mengklaim mendengar dari dua sumber bahwa City akan dijatuhi pengurangan 60 poin — yang kemungkinan baru diberlakukan musim depan. Perlu dicatat: itu masih klaim seorang presenter, bukan fakta resmi. Yang pasti, rentang sanksi yang mungkin dijatuhkan membentang dari denda dan larangan transfer, pengurangan poin dalam jumlah besar, pencopotan gelar secara retrospektif, sampai — dalam skenario paling ekstrem — dikeluarkan dari Premier League. Menurut jurnalis David Ornstein, skenario pengeluaran itu pun butuh persetujuan minimal 15 klub anggota liga.

Ironisnya, di tengah semua kebisingan itu, para pemain City justru tampil seperti tim yang tidak punya beban sama sekali. Kata Haaland usai laga: di masa-masa seperti ini, yang bisa dilakukan hanyalah tetap kuat secara mental, tetap kompak sebagai tim, dan mengerjakan hal yang memang bisa mereka kendalikan — yaitu bermain sepak bola dengan bagus dan berjuang bersama-sama. Di atas lapangan tadi malam, mereka memang melakukannya dengan sempurna.

Dampak ke Klasemen: City Sempurna, Arsenal Mengejar, Liverpool Terseok

Enam laga, enam kemenangan, 18 poin. Manchester City kini unggul tiga poin dari Arsenal yang sehari sebelumnya menang comeback 2-1 atas Leeds United di Emirates. Di pertandingan lain akhir pekan ini, Chelsea membantai Bournemouth 5-1 dan Crystal Palace menang comeback 3-1 atas Nottingham Forest.

Di bawah mereka, Liverpool terdampar di peringkat sembilan — start yang jauh dari ekspektasi untuk tim yang seharusnya bersaing di papan atas. Kekalahan pertama mereka musim ini datang dengan cara yang paling menyakitkan: dibantai di kandang sendiri, di depan suporter sendiri, oleh rival yang sedang mereka caci sebagai "cheat".

Pertanyaan besarnya sekarang: apa arti 18 poin ini jika pengurangan poin benar-benar datang? City bisa saja tampil dominan selama berbulan-bulan, memuncaki klasemen dengan gagah, lalu kehilangan semuanya di meja sidang. Setiap kemenangan mereka kini terasa "bersyarat" — ada tanda bintang tak terlihat di setiap tiga poin. Itu adalah situasi yang belum pernah terjadi dalam sejarah sepak bola Inggris, dan tidak ada yang tahu bagaimana akhirnya.

Opini Redaksi: Kemenangan Terbersih dari Tim yang Dinyatakan Bersalah

Inilah paradoks yang membuat laga tadi malam begitu menarik sekaligus mengganggu: di atas lapangan, Manchester City memainkan sepak bola terbaik di Inggris saat ini. Gol ketiga mereka — 41 umpan tanpa putus sebelum diselesaikan Cherki — adalah mahakarya kolektif yang pantas diputar ulang berkali-kali. Doku masuk dari bangku cadangan dan mengubah permainan dalam 12 menit. Haaland klinis seperti biasa. Tidak ada satu pun yang "curang" dari cara mereka memenangkan pertandingan di Anfield.

Tapi di luar lapangan, komisi independen sudah memutuskan dengan tegas: klub ini membangun era dominasinya lewat sponsor "sham" — kesepakatan komersial palsu — dan dana terselubung dari pemilik yang menggelembungkan pendapatan hingga ratusan juta pound dalam periode 2009-2018. Dua realitas ini sekarang hidup berdampingan: tim terbaik di lapangan, dan terdakwa terbesar di ruang sidang. Tidak ada yang tahu bagaimana ceritanya akan berakhir.

Buat Liverpool, malam ini harus jadi cermin, bukan kambing hitam. Tiga kekalahan beruntun dari rival yang sama, kartu merah yang ceroboh, dan taktik yang runtuh total begitu rencana A gagal — itu bukan nasib buruk, itu pola. Iraola punya pekerjaan besar di depan: mengembalikan mentalitas tim yang tampaknya sudah kalah bahkan sebelum kartu merah keluar dari saku wasit. Kalau tidak, peringkat sembilan di bulan Oktober bisa berubah menjadi krisis sungguhan di bulan Desember.

Buat penonton netral seperti kita, ini justru tontonan terbaik musim ini: tim terbaik di atas lapangan melawan sistem yang menghakiminya di luar lapangan. Musim 2026/27 mungkin tidak akan dikenang karena siapa yang mengangkat trofi — tapi karena apakah trofi itu pada akhirnya masih diakui sebagai milik yang sah.

City akan terus dikejar pertanyaan yang sama di setiap stadion yang mereka datangi musim ini: sampai kapan kalian bisa lari dari vonis kalian sendiri? Jawaban sementara tadi malam, yang ditulis dengan huruf tebal di papan skor Anfield: sejauh kemenangan 3-0.

Ditulis oleh Bang Sat, redaksi Offside Zone.

Belum ada Komentar untuk "Hasil Liverpool vs Manchester City 0-3: Anfield Dibungkam, City Menang di Laga Pertama Usai Vonis Bersalah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel