Manchester City Dinyatakan Bersalah 114 dari 115 Dakwaan: Ini Skenario Hukuman yang Menanti
Vonis yang ditunggu delapan tahun akhirnya keluar. Manchester City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan pelanggaran aturan finansial Premier League. Ini bukan sekadar denda administratif. Ini vonis terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris, dan hukumannya bisa mengubah peta Premier League untuk satu dekade ke depan.
Komisi independen yang memeriksa kasus ini menyimpulkan City dengan sengaja mengakali aturan selama sembilan musim, dari 2009 sampai 2018. Di periode itulah City memenangkan tiga gelar Premier League. Vonis diumumkan Premier League pada 28 September 2026. City sudah mengajukan banding pada 1 Oktober. Jadi ceritanya masih jauh dari selesai.
Kronologi: dari bocoran email 2018 sampai vonis 2026
Kasus ini berakar dari bocoran email internal City yang dipublikasikan media Jerman pada 2018. Email-email itu diduga menunjukkan City menggelembungkan pendapatan sponsor supaya lolos aturan Financial Fair Play UEFA.
UEFA bergerak duluan. Februari 2020, City dinyatakan bersalah melanggar FFP dan dijatuhi larangan tampil di Liga Champions selama dua musim plus denda 30 juta euro. City banding ke CAS, dan hasilnya mengejutkan: larangan dicabut, denda dipangkas jadi 10 juta euro. CAS menilai sebagian besar dakwaan UEFA tidak terbukti atau sudah kedaluwarsa.
City merasa menang. Premier League justru menyiapkan kasus yang jauh lebih besar. Februari 2023, liga mendakwa City dengan 115 pelanggaran aturan finansial yang mencakup sembilan musim kompetisi. Sidang digelar komisi independen selama sepuluh pekan, dari September sampai Desember 2024. Hampir dua tahun kemudian, vonisnya keluar: bersalah atas seluruh dakwaan finansial, dan 34 dari 35 dakwaan ketidakkooperatifan dalam penyelidikan.
Apa yang sebenarnya terbukti?
Menurut pengumuman resmi Premier League, temuan komisi sangat telak. Yang paling berat: pemilik City menyamarkan lebih dari 800 juta pound dana ekuitas langsung sebagai pendapatan sponsor. Sederhananya, uang pemilik disulap seolah-olah pendapatan komersial, supaya City bisa belanja pemain jauh melebihi batas yang diizinkan aturan. Komisi juga menemukan kontrak-kontrak fiktif yang dipakai untuk menggelembungkan pendapatan sekaligus menekan biaya.
Bahasa yang dipakai komisi tidak main-main. Mereka menyebut City "jelas berniat mengakali aturan Premier League" dan melakukan "upaya terkoordinasi untuk menghentikan dan menggagalkan penyelidikan liga". Lebih jauh, sejumlah saksi penting klub disebut memberikan kesaksian palsu dalam hal-hal kunci, dan sebagian "secara sadar memberikan keterangan yang tidak benar dan tidak jujur".
Ini poin yang perlu digarisbawahi. Vonis ini bukan soal salah hitung, telat lapor, atau salah tafsir aturan. Komisi menyimpulkan ada niat, ada pola yang berjalan sembilan tahun, dan ada upaya menutupi. Itu yang membedakan kasus City dari kasus pelanggaran finansial lain di Inggris, dan itu pula yang membuat hukuman maksimalnya jauh lebih mengerikan.
Respons City: banding, klaim tidak bersalah, ancaman ke pengadilan
City tidak tinggal diam. Pada 1 Oktober 2026 pukul 19.00 waktu setempat, klub resmi mengajukan banding. Dalam pernyataan resminya, City menyebut vonis komisi "tidak aman" (unsafe) dan mengklaim memiliki "bukti tak terbantahkan yang komprehensif" untuk mendukung posisinya. Klub menegaskan tidak bersalah atas seluruh tuduhan Premier League.
Banding akan diperiksa komisi banding beranggotakan tiga orang. Prosesnya diperkirakan memakan waktu maksimal 12 pekan, dengan keputusan keluar paling lambat 30 hari setelah sidang selesai. Artinya kepastian final baru akan datang sekitar awal 2027, dan itu pun kalau tidak ada langkah hukum lanjutan.
Karena City disebut siap membawa kasus ini sampai ke High Court, pengadilan tinggi Inggris, kalau hasil banding tidak memuaskan. Seorang pengacara olahraga yang diwawancarai media Inggris menyebut City berencana menempuh jalur itu demi membersihkan nama. Kalau benar terjadi, saga ini bisa molor bertahun-tahun, jauh melampaui satu musim kompetisi.
Baca juga: Pedro Porro Ingin Tinggalkan Tottenham Demi Barcelona, Hubungannya dengan De Zerbi Retak
Skenario hukuman: dari pengurangan poin sampai degradasi
Selama banding berjalan, tidak ada hukuman yang bisa dijatuhkan. Tapi begitu vonis final, daftar hukumannya panjang. Premier League tidak punya tarif baku untuk kasus finansial, jadi semuanya terbuka: denda, pengurangan poin, larangan transfer, kewajiban ganti rugi ke klub lain, pencabutan gelar, degradasi otomatis, sampai pengusiran dari liga.
Klub-klub rival sudah bersuara. BBC Sport melaporkan pada 6 Oktober bahwa sedikitnya empat klub Premier League menuntut hukuman ganda: hukuman retrospektif untuk periode pelanggaran, plus sanksi terpisah untuk pelanggaran aturannya sendiri. Satu sumber senior bahkan menyebut City seharusnya dicopot dari tiga gelar yang dimenangkan antara 2009 dan 2018, meski tidak ada dorongan untuk mengalihkan gelar itu ke klub lain.
Ada juga wacana hukuman pengurangan poin yang dibagi ke beberapa musim, supaya efeknya tidak habis dalam satu musim degradasi lalu selesai begitu saja. Beberapa klub mengusulkan larangan transfer yang membentang beberapa jendela bursa. Satu sumber menyebut akan "aneh, hampir tidak masuk akal" kalau City masih boleh belanja pemain pada bursa Januari sementara proses banding berjalan dan sanksi belum dijatuhkan.
Yang menarik, muncul pula ide "sistem tarif": kompensasi finansial untuk klub-klub rival berdasarkan posisi klasemen yang mungkin mereka raih seandainya City tidak ikut berkompetisi secara tidak fair. Ide ini menunjukkan betapa rumitnya mencari hukuman yang adil untuk kecurangan yang efeknya menyebar ke sembilan musim.
Perbandingan yang tidak sebanding: Everton, Forest, dan Juventus
Premier League punya preseden menghukum pelanggaran finansial. Everton dikurangi 10 poin pada musim 2023/2024 (dikurangi jadi 6 poin setelah banding). Nottingham Forest dikurangi 4 poin. Tapi skala kasus City berbeda langit dan bumi. Everton dan Forest melanggar batas kerugian yang diizinkan aturan. City divonis memalsukan struktur keuangannya selama sembilan tahun, lengkap dengan kesaksian palsu untuk menutupi.
Perbandingan yang lebih dekat justru datang dari Italia. Calciopoli 2006. Juventus terdegradasi ke Serie B dan dua gelarnya dicopot karena skandal pengaturan pertandingan. Waktu itu hukumannya terasa seperti kiamat untuk Si Nyonya Tua. Tapi lihat apa yang terjadi sesudahnya: Juventus kembali ke Serie A dalam semusim, lalu mendominasi Italia dengan sembilan scudetto beruntun. Hukuman berat tidak membunuh klub besar. Hukuman berat hanya menunda mereka.
Ini pelajaran yang perlu diingat sebelum berfantasi soal City terdegradasi. Klub dengan pemilik sekaya City dan skuad semahal itu tidak akan lama terpuruk, apapun hukumannya. Pertanyaannya bukan apakah City akan kembali ke papan atas, tapi berapa lama jeda yang dipaksakan kepada mereka, dan apakah jeda itu cukup panjang untuk membuat rival mengejar secara struktural, bukan cuma satu musim.
Kenapa vonis ini belum mengubah apapun musim ini
Fakta yang perlu disampaikan jujur: untuk musim 2026/2027 yang sedang berjalan, vonis ini belum mengubah apapun. City tetap bermain, tetap memburu gelar, dan tetap bisa belanja pemain pada Januari kalau tidak ada keputusan sela. Banding menunda segalanya, dan itu memang hak klub.
Laga terdekat City justru jadi panggung yang menarik. Minggu, 11 Oktober, Liverpool menjamu City di Anfield. Ini laga pertama City sejak vonis bersalah diumumkan, dan media Inggris sudah menyebutnya sebagai big match penutup pekan. Para pemain City sendiri belum ada yang bicara soal vonis. Erling Haaland bahkan ditarik dari tugas media saat bersama timnas Norwegia pekan lalu. Klub memilih bungkam dan fokus ke lapangan, strategi yang masuk akal: jangan kasih lawan bahan bakar psikologis.
Gary Neville, yang biasanya vokal soal politik sepak bola Inggris, menilai pemilik City akan "sangat sulit mempertahankan statusnya" di klub kalau vonis bersalah bertahan setelah banding. Itu pernyataan besar. Neville pada dasarnya bilang: kalau vonis ini final, yang dipertaruhkan bukan cuma poin dan gelar, tapi legitimasi kepemilikan klub itu sendiri.
Yang sebenarnya dipertaruhkan: kredibilitas aturan main
Di sinilah opini redaksi masuk. Kasus City bukan cuma soal satu klub. Ini soal apakah aturan finansial sepak bola Inggris punya gigi atau cuma pajangan di buku regulasi.
Premier League sudah menghukum Everton dan Forest dengan pengurangan poin untuk pelanggaran yang jauh lebih kecil. Kalau City, yang divonis bersalah atas 114 dakwaan termasuk pemberian kesaksian palsu, lolos dengan denda ringan, maka pesannya jelas ke seluruh klub: aturan hanya berlaku untuk klub kecil. Klub kaya bisa mengakali, menutupi, lalu banding sampai semua orang lelah dan publik lupa.
Efeknya merembet ke mana-mana. Newcastle United, yang dimiliki dana publik Arab Saudi, sedang diawasi ketat soal transaksi dengan pihak terkait. Klub-klub lain menonton kasus City sebagai tolok ukur: sejauh apa kita bisa mendorong batas sebelum liga benar-benar bertindak? Vonis tanpa hukuman yang setimpal akan dibaca sebagai lampu hijau oleh setiap pemilik klub yang punya ambisi dan dompet tebal.
Di sisi lain, ada argumen yang juga perlu didengar dengan kepala dingin. Menghukum City hari ini berarti menghukum skuad, pelatih, dan suporter yang tidak ada hubungannya dengan kecurangan periode 2009-2018. Pemain-pemain City sekarang tidak ikut memalsukan kontrak sponsor. Suporter yang membeli tiket tiap pekan tidak ikut menyuap saksi. Pencabutan gelar menghukum ingatan kolektif suporter atas malam-malam bersejarah, termasuk gol Aguero di menit 93 yang jadi legenda Premier League. Itu sebabnya hukuman retrospektif selalu kontroversial, dan itu pula sebabnya klub-klub rival pun tidak mendorong gelar dialihkan ke mereka. Semua orang paham satu hal: gelar yang dicopot tidak bisa diberikan ulang dengan cara yang terasa adil bagi siapapun.
Prediksi redaksi: hukuman berat, tapi bukan kiamat
Kalau harus menebak, skenario paling mungkin adalah kombinasi: pengurangan poin besar yang dibagi ke beberapa musim, plus larangan transfer satu sampai dua jendela bursa, plus denda raksasa. Pencabutan gelar mungkin dibahas serius di ruang sidang, tapi secara politik sulit dieksekusi karena presedennya berantakan. Pengusiran dari liga hampir mustahil, karena Premier League butuh City sebagai produk global sama besarnya dengan City butuh Premier League.
Yang juga hampir pasti: prosesnya lama. Banding sampai awal 2027, kemungkinan lanjut ke High Court, dan setiap tahap bisa molor berbulan-bulan. City punya tim hukum terbaik yang bisa dibeli uang, dan mereka akan memakai setiap celah prosedural yang ada. Jangan kaget kalau musim 2026/2027 selesai tanpa satu pun sanksi dijatuhkan.
Buat suporter Indonesia yang nonton Premier League tiap pekan, satu hal yang pasti: musim ini City bermain dengan bayang-bayang vonis di pundak mereka. Setiap kekalahan akan dibaca sebagai awal keruntuhan, setiap kemenangan sebagai pembuktian diri. Tekanannya nyata, meski hukumannya belum datang. Dan laga Minggu malam di Anfield akan jadi ujian pertama mentalitas mereka: bisakah tim yang baru saja divonis curang tampil tenang di kandang rival terbesarnya?
Ditulis oleh Bang Sat, redaksi Offside Zone.

Belum ada Komentar untuk "Manchester City Dinyatakan Bersalah 114 dari 115 Dakwaan: Ini Skenario Hukuman yang Menanti"
Posting Komentar