Herdman Tak Mau Timnas Terlena Juara ASEAN Cup: 5 PR Besar yang Harus Dibereskan Sebelum Piala Asia 2027


Herdman Tak Mau Timnas Terlena Juara ASEAN Cup: 5 PR Besar yang Harus Dibereskan Sebelum Piala Asia 2027

Euforia Belum Selesai, Herdman Sudah Bicara yang Pahit

Belum seminggu trofi FIFA ASEAN Cup 2026 diangkat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, John Herdman sudah menyiram air dingin ke semua orang. Pelatih asal Inggris itu tahu persis apa yang terjadi pada tim yang mabuk gelar juara, dan dia tidak mau Indonesia jadi contoh berikutnya.

Jumat kemarin, 9 Oktober 2026, di Jakarta, Herdman bicara blak-blakan di depan media. Intinya satu: tim ini belum selesai. Gelar ASEAN Cup bukan garis finis, melainkan fondasi menuju agenda yang jauh lebih besar. Dia menyebut masih banyak aspek yang harus dibenahi, dari strategi sampai pemilihan pemain. Dan dia merinci daftarnya tanpa tedeng aling-aling: transisi permainan, kemampuan bertahan, pola serangan, pengorganisasian tim saat membangun serangan, hingga penyelesaian situasi bola mati.

Dengarkan baik-baik daftar itu. Seorang pelatih yang baru saja juara, seminggu setelah mengangkat trofi, masih berani menyebut lima pekerjaan rumah di depan publik. Itu bukan sikap merendah palsu. Itu tanda dia sudah melihat apa yang belum dilihat banyak orang: bahwa kemenangan 4-2 atas Thailand lewat adu penalti pada 5 Oktober lalu menyimpan banyak retakan yang belum diperbaiki.

Pelatih timnas Indonesia John Herdman memimpin sesi latihan skuad Garuda

Karena itu artikel ini tidak akan mengulang-ulang cerita euforia. Cerita tentang Emil Audero menahan penalti Nattapong Sayriya, tentang Elkan Baggott menyamakan kedudukan di menit ke-116, sudah ditulis di mana-mana, termasuk oleh kami di laporan hasil final Indonesia vs Thailand 2-2 kemarin. Kali ini kita bedah daftar PR Herdman satu per satu, dan jujur menilai mana yang paling berbahaya kalau dibiarkan sampai Januari.

PR Pertama: Peluang Terbuang di Depan Gawang

Herdman sendiri yang mengakuinya. Usai final, dia bilang Indonesia tampil dominan di 25 menit pertama dan terlihat seperti bisa mencetak tiga atau empat gol. Kenyataannya? Tidak ada satu pun dari peluang itu yang jadi gol. Gol pertama Garuda baru lahir lewat Dean James, dan gol kedua harus menunggu sampai menit ke-116 lewat sundulan Baggott. Dua gol dalam 120 menit, padahal pelatihnya sendiri merasa timnya pantas dapat tiga atau empat hanya dari 25 menit awal.

Di ASEAN Cup, pemborosan seperti itu masih bisa ditoleransi. Thailand menghukumnya dengan dua gol balasan, tapi Indonesia selamat lewat adu penalti. Coba bayangkan skenario yang sama di Piala Asia 2027. Lawannya Jepang di laga pembuka, 11 Januari di Jeddah. Tim yang gagal memaksimalkan 25 menit dominan melawan Jepang biasanya tidak dapat kesempatan kedua.

Ini PR paling kasat mata dan paling mendesak. Finishing bukan soal bakat individu semata. Masalahnya ada di ketenangan pengambilan keputusan di sepertiga akhir lapangan, dan itu hanya bisa dilatih dengan repetisi situasi pertandingan yang sesungguhnya. Herdman menyebut timnya baru menjalani sekitar lima sesi latihan sebelum turnamen. Lima sesi. Dengan waktu persiapan sesempit itu, wajar kalau penyelesaian akhir masih mentah. Kabar baiknya, dia sadar. Kabar buruknya, waktu menuju Januari tidak banyak.

PR Kedua: Transisi yang Sering Telat

Lihat lagi dua gol Thailand di final. Gol penyama Iklas Sanron dan gol Peeradol Chamrasamee di babak tambahan lahir dari momen ketika Indonesia kehilangan bola dan tidak cukup cepat kembali ke bentuk bertahan. Herdman menyebut transisi permainan sebagai salah satu area yang harus dibenahi, dan final kemarin adalah bukti hidupnya.

Transisi adalah penyakit klasik tim yang baru belajar menyerang dengan berani. Saat menyerang, bek sayap naik, gelandang maju, dan begitu bola hilang, ruang di belakang mereka menganga. Melawan Thailand, Indonesia masih bisa mengejar. Melawan Qatar, juara bertahan Asia yang akan dihadapi 16 Januari di Khobar, ruang seperti itu adalah undangan gol. Qatar punya pemain yang hidup dari serangan balik cepat. Mereka tidak butuh banyak peluang.

Yang menarik, masalah transisi ini juga berkaitan dengan komposisi skuad. Thom Haye dan Ivar Jenner bagus dalam penguasaan bola, tapi transisi bertahan butuh kerja kolektif sebelas pemain, bukan dua. Herdman sedang membangun identitas bermain tim ini, bukan sekadar memilih pemain terbaik, dan transisi adalah bagian yang paling kelihatan belum rapi.

PR Ketiga: Bertahan dan Bola Mati

Dua gol bersarang ke gawang Emil Audero di final. Untuk tim juara, itu angka yang mengganggu. Herdman secara spesifik menyebut kemampuan bertahan dan penyelesaian situasi bola mati sebagai dua dari lima area pembenahan. Artinya dia melihat sesuatu yang konkret, bukan sekadar catatan umum.

Pertahanan Indonesia di turnamen ini sebenarnya punya momen heroik. Audero tampil luar biasa sepanjang turnamen, dan lini belakang yang digalang Kevin Diks, Jay Idzes, Justin Hubner, dan kawan-kawan cukup solid di fase grup. Tapi final menunjukkan sisi lainnya: ketika intensitas naik dan lawan berani menekan, organisasi pertahanan goyah. Gol-gol Thailand bukan kebetulan. Itu pola.

Soal bola mati, ini senjata dua sisi. Indonesia mencetak gol penting dari situasi bola mati di turnamen ini, tapi Herdman menyebut penyelesaian situasi bola mati sebagai PR, yang berarti dia bicara soal kedua ujungnya: menyerang dan bertahan. Di Piala Asia, bola mati sering jadi pembeda antara tim yang lolos grup dan yang pulang cepat. Jepang dan Qatar sama-sama tim yang sangat terlatih dalam situasi bola mati.

Ada satu variabel yang bisa mengubah banyak hal di sini: kembalinya para pemain cedera. Mees Hilgers, Miliano Jonathans, dan Marselino Ferdinan semuanya dinantikan kembali pada November. Hilgers sendiri sudah bicara soal keyakinannya pulang ke timnas bulan depan. Kehadiran mereka menambah kedalaman, tapi juga menambah PR baru: mengintegrasikan pemain yang lama absen ke dalam sistem yang baru setengah jadi.

PR Keempat dan Kelima: Membangun Serangan yang Punya Bentuk

Dua poin terakhir dalam daftar Herdman sebenarnya satu paket: pola serangan dan pengorganisasian tim saat membangun serangan. Bahasa sederhananya: Indonesia belum punya cara menyerang yang ajek. Kadang mengalir, kadang buntu, tergantung momen.

Ingat laga melawan Malaysia di fase grup yang berakhir 0-0. Indonesia bermain dengan sepuluh orang sejak Thom Haye dikartu merah di menit ke-37, dan setelah itu nyaris tidak menciptakan peluang berbahaya. Herdman waktu itu bilang satu-satunya yang perlu diperbaiki adalah aspek menyerang saat bermain dengan sepuluh pemain. Sekarang, setelah juara turnamen, dia memperluas catatan itu ke pola serangan secara umum.

Kenapa ini penting? Karena di Piala Asia 2027, Indonesia tidak akan jadi tim yang mendominasi penguasaan bola. Melawan Jepang dan Qatar, Garuda kemungkinan besar akan lebih banyak bertahan dan menunggu momen. Tim yang tidak punya pola serangan yang jelas akan kesulitan setiap kali merebut bola. Mereka rebut, mereka bingung, mereka kehilangan lagi. Membangun serangan yang punya bentuk, yang bisa dijalankan bahkan saat tertekan, adalah fondasi untuk bisa mencuri poin dari tim yang lebih kuat.

Dan ini PR yang paling butuh waktu. Pola serangan tidak bisa dibangun dalam seminggu. Butuh puluhan sesi latihan, butuh chemistry, butuh pemain yang paham pergerakan satu sama lain tanpa harus melihat. Herdman bilang timnya baru punya sekitar lima sesi latihan sebelum ASEAN Cup. Bayangkan apa yang bisa dia lakukan dengan persiapan yang proper menuju Januari, asal PSSI memberinya waktu dan jadwal uji coba yang berkualitas.

Kenapa Peringatan Ini Justru Kabar Baik

Sekarang bagian yang jarang dibahas media lain. Ada alasan kenapa pernyataan Herdman ini seharusnya bikin suporter Indonesia lega, bukan khawatir.

Sejarah sepak bola Indonesia penuh dengan siklus mabuk kemenangan. Terakhir kali timnas senior mengangkat trofi internasional adalah SEA Games 1991. Setelah itu, puluhan tahun berlalu tanpa gelar, diisi oleh euforia sesaat setiap kali hampir juara, lalu keterpurukan. Polanya selalu sama: juara atau hampir juara, semua orang merasa sudah hebat, evaluasi berhenti, lalu babak berikutnya jadi bencana. Herdman memutus pola itu di minggu pertama setelah juara. Itu bukan hal kecil.

Bandingkan dengan pelatih-pelatih sebelumnya yang setelah hasil bagus langsung diserbu pujian dan berhenti mengkritik timnya sendiri. Herdman melakukan sebaliknya. Dia baru saja mengakhiri penantian gelar 35 tahun, membawa Indonesia naik ke peringkat 116 FIFA, terbaik dalam 20 tahun, dan yang dia bicarakan adalah lima kekurangan timnya. Itu mentalitas pelatih yang berpikir dalam hitungan tahun, bukan hitungan pekan.

Dan dia benar soal taruhannya. Grup F Piala Asia 2027 berisi Jepang, Qatar, dan Thailand. Jepang ingin menegaskan status raksasa Asia. Qatar datang sebagai juara bertahan. Thailand? Mereka baru saja kalah di final dan dipermalukan tiga kali dalam sepekan oleh Indonesia. Laga 20 Januari di Jeddah akan jadi ajang balas dendam mereka.

Satu hal lagi yang perlu dicatat: Herdman menyebut setiap pertandingan harus jadi kesempatan belajar. Dalam konteks ini artinya dia akan memakai FIFA Matchday November sebagai laboratorium. Indonesia dijadwalkan melawan Yordania pada 13 November di Amman, dan jeda internasional November adalah kesempatan terakhir untuk menguji perbaikan sebelum Januari. Kalau Herdman serius dengan daftar PR-nya, jangan panik kalau hasil uji cobanya tidak selalu menang. Uji coba memang untuk mencoba.

Penilaian Redaksi: Mana yang Paling Mendesak

Kalau redaksi Offside Zone diminta mengurutkan lima PR Herdman dari yang paling genting, urutannya begini.

Yang pertama adalah penyelesaian akhir. Ini soal matematika sederhana: di turnamen seberat Piala Asia, peluang emas tidak datang berkali-kali. Tim yang boros peluang akan tersingkir. Kabar baiknya, ini PR yang paling bisa diperbaiki dalam waktu singkat lewat latihan repetitif.

Yang kedua adalah transisi bertahan. Ini soal nyawa. Satu transisi yang gagal melawan Jepang bisa berarti dua gol dalam lima menit, dan pertandingan selesai sebelum sempat dimulai.

Yang ketiga adalah bola mati di kedua sisi lapangan. Tim yang rapi di area ini bisa mencuri poin dari lawan yang lebih kuat. Tim yang berantakan akan kebobolan dari hal yang sebenarnya bisa dilatih.

Yang keempat dan kelima, pola serangan dan organisasi build-up, adalah investasi jangka panjang. Tidak akan selesai dalam tiga bulan, tapi harus dimulai sekarang. Fondasinya adalah waktu latihan yang cukup dan jadwal uji coba yang bermutu, dua hal yang sepenuhnya berada di tangan PSSI dan Erick Thohir.

Target realistis Indonesia di Piala Asia 2027 bukan juara, dan Herdman pasti tahu itu. Targetnya adalah lolos dari grup, mengulangi capaian 16 besar seperti di Piala Asia 2023. Dengan materi pemain yang ada, tambahan tiga pemain yang pulang dari cedera, dan pelatih yang berani jujur soal kekurangan timnya seminggu setelah juara, target itu masuk akal. Bukan mudah, tapi masuk akal.

Jadi ya, euforianya boleh disimpan sebagai kenangan manis. Tapi kalau mau mimpi yang lebih besar di Januari, dengarkan Herdman: kerjaannya belum selesai. Lima PR itu bukan kritik, itu peta jalan.

Ditulis oleh Bang Sat, redaksi Offside Zone.


Belum ada Komentar untuk "Herdman Tak Mau Timnas Terlena Juara ASEAN Cup: 5 PR Besar yang Harus Dibereskan Sebelum Piala Asia 2027"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel