Hasil PSIM vs Persija 0-4: 13 Menit Amarah Macan Kemayoran, Puncak Klasemen Direbut
![]()
Bantul tidak pernah sepi suara sepanjang sore tadi. Tapi di menit-menit akhir, yang terdengar dari tribun Stadion Sultan Agung justru hening dari sisi tuan rumah — dan gemuruh nyaring dari sudut yang ditempati suporter Macan Kemayoran. PSIM Yogyakarta kalah 0-4 dari Persija Jakarta pada pekan ke-4 Super League 2026/2027, Sabtu (10/10/2026). Skor yang kejam. Apalagi kalau ingat: sampai menit ke-77, papan skor masih 0-0.
Empat gol dalam tiga belas menit. Bukan sekadar kemenangan. Ini pesan yang dikirim Shin Tae-yong ke seluruh isi liga: Persija serius mau juara musim ini.
77 Menit Ketegangan, 13 Menit Pembantaian
Pertandingan ini sebenarnya punya dua wajah. Wajah pertama adalah perang urat saraf. Sejak kick-off pukul 15.30 WIB, PSIM langsung menyengat — menit ke-2, Ze Valente mengambil sepak pojok, Franco Ramos menyambut dengan sundulan, bola melenceng tipis. Sinyal jelas: Laskar Mataram tidak mau jadi korban.
Persija butuh 13 menit untuk mencatatkan shot on target pertama lewat Stjepan Loncar. Setelah itu Macan Kemayoran mendominasi, tapi tembok PSIM yang dikawal Cahya Supriadi berdiri kokoh. Fabio Calonego mencoba dari jarak jauh, Loncar menyambar tendangan langsung, Rayhan Hannan melepaskan tembakan dari luar kotak penalti — semua mentah di tangan Cahya. Menit ke-43, dalam situasi kemelut di depan gawang, Cahya kembali menepis bola. Babak pertama berakhir 0-0, dan suporter tuan rumah mulai percaya sesuatu yang istimewa bisa terjadi.
Momen paling dramatis babak kedua datang di menit ke-56. Arliansyah Abdulmanan menyambar bola liar di depan gawang PSIM, bola masuk, tribun Persija meledak — lalu wasit Nendi Rohaendy menunjuk layar. VAR. Offside. Gol dianulir. Tiga menit sebelumnya, Mauro Caballero sudah bikin jantung Persija berdebar lewat tendangan yang ditepis Nadeo Argawinata.
Tapi sepak bola kadang memang sekejam itu. Satu gol yang sah runtuh, satu gol yang dianulir, dan mentalitas yang ikut runtuh. Di menit ke-77, Alexander Jeremejeff memecah kebuntuan lewat tembakan kaki kanan menyambar umpan dari sisi kiri — sempat dicek VAR lagi, kali ini disahkan. Setelah itu bendungan jebol total: menit ke-81 Stjepan Loncar menggandakan keunggulan lewat umpan silang Kerim Memija, menit ke-87 Kwon Chang-hoon bikin 3-0, dan menit 90+4 Loncar menutup pesta dengan gol keduanya.
- Skor akhir: PSIM Yogyakarta 0-4 Persija Jakarta
- Stadion: Sultan Agung, Bantul — Sabtu, 10 Oktober 2026, kick-off 15.30 WIB
- Gol: Alexander Jeremejeff (77'), Stjepan Loncar (81', 90+4'), Kwon Chang-hoon (87')
- Wasit: Nendi Rohaendy; VAR menganulir gol Arliansyah Abdulmanan (56') karena offside
- Klasemen: Persija naik ke puncak dengan 12 poin (4 kemenangan beruntun); PSIM tertahan di peringkat 14 dengan 1 poin

Kenapa PSIM Runtuh Seketika? Ini Bukan Sekadar Lelah
Penjelasan paling gampang: PSIM kehabisan bensin. Menahan tim sekuat Persija selama 77 menit menguras fisik dan konsentrasi, dan begitu gol pertama masuk, semuanya ambyar. Itu benar, tapi tidak cukup menjelaskan kenapa jedanya hanya empat menit ke gol kedua, enam menit ke gol ketiga.
Perhatikan polanya. PSIM bukan tim yang main terbuka lalu dibantai — mereka bertahan sangat dalam dengan blok rendah yang disiplin. Strategi seperti ini punya satu kelemahan bawaan: ia berjalan di atas pisau konsentrasi kolektif. Selama nol-nol, setiap pemain PSIM tahu persis tugasnya. Satu gol masuk, skenario runtuh, dan tidak ada rencana B yang dilatih dengan baik. Tim yang bertahan total tanpa punya skema menyerang yang meyakinkan akan selalu terlihat seperti tim yang kehilangan arah begitu tertinggal.
Bandingkan dengan apa yang dilakukan Borneo FC dua hari lalu di kandang Buriram United: mereka juga bertahan, tapi bertahan dengan struktur transisi yang jelas dan pulang dengan hasil imbang 0-0. PSIM bertahan tanpa transisi. Begitu Jeremejeff mencetak gol, pemain PSIM seperti tidak tahu lagi harus main bagaimana — dan Persija, tim yang memang menunggu momen itu, menghukumnya tanpa ampun.
Ada satu detail yang sering luput: gol anulir VAR di menit ke-56. Secara psikologis, itu momen yang menghancurkan dua arah. Buat Persija, gol yang dibatalkan justru membakar emosi — "kita sudah bisa bobol mereka, tinggal ulangi". Buat PSIM, lolos dari gol itu memberi rasa lega palsu, seolah dewi fortuna berpihak. Ketika gol sah akhirnya datang 21 menit kemudian, rasa lega itu berubah jadi kepanikan. Sepak bola penuh dengan runtuhnya tim yang bertahan terlalu lama di ambang batas.
Shin Tae-yong: Kesabaran yang Terlatih
Kalau ada satu hal yang membedakan Persija musim ini, itu bukan sekadar materi pemain — melainkan kesabaran taktik. Shin Tae-yong tidak panik saat babak pertama buntu. Tidak ada pergantian nekat di menit ke-50, tidak ada perubahan formasi panik. Persija terus menggerus lewat sisi sayap, terus memaksa PSIM bertahan dalam, terus menunggu satu celah.
Konteksnya penting: Persija baru kembali berlaga setelah jeda kompetisi sekitar tiga pekan, dan lima pemainnya baru pulang dari tugas negara di FIFA ASEAN Cup 2026 — Nadeo Argawinata, Rizky Ridho, Shayne Pattynama, Jordi Amat, dan Rayhan Hannan. Shin Tae-yong sendiri mengakui sebelum laga bahwa ia tidak bisa banyak berlatih organisasi karena para pemain timnas. Tim yang minim persiapan taktik biasanya tampil grasa-grusu. Persija justru tampil seperti tim yang tahu persis apa yang dilakukannya.
Itu tanda kedalaman skuad yang sehat. Ketika pemain-pemain inti timnas kembali dalam kondisi bugar pasca-juara ASEAN Cup, Persija punya kemewahan yang tidak dimiliki PSIM: bangku cadangan yang bisa mengubah pertandingan. Loncar mencetak dua gol, Kwon Chang-hoon satu — tiga dari empat gol datang dari pemain yang memang dibeli untuk momen seperti ini. Dan jangan lupakan Nadeo di bawah mistar: penyelamatan atas tendangan Caballero di menit ke-53 menjaga skor tetap 0-0 di fase paling berbahaya laga ini.
Empat kemenangan beruntun di empat pekan. Persija kini memimpin klasemen sendirian dengan 12 poin. Bandingkan dengan musim-musim sebelumnya ketika Macan Kemayoran kerap tersandung di laga-laga "seharusnya menang" — musim ini mereka justru menjadikan laga seperti inilah pernyataan.
Krisis Nyata Bernama PSIM: Satu Poin dari Empat Laga
Sekarang sisi yang pahit. PSIM belum pernah menang: satu imbang, tiga kalah, satu poin, peringkat 14. Kekalahan 0-4 di kandang sendiri dari tim papan atas memang bukan aib — tapi cara kalahnya yang mengkhawatirkan.
Masalah PSIM bukan pertahanan. Tujuh puluh tujuh menit menahan Persija tanpa gol adalah bukti organisasi defensif mereka bekerja. Masalahnya adalah apa yang terjadi setelahnya, dan apa yang tidak pernah terjadi: ancaman nyata ke gawang lawan. Sepanjang laga, peluang terbaik PSIM hanyalah sundulan Ramos Mingo yang melenceng di menit ke-2 dan tendangan Caballero yang ditepis Nadeo. Sisanya, PSIM seperti tim yang datang dengan target imbang 0-0 dan tidak punya jawaban saat target itu gagal.
Ini pola yang berbahaya di liga yang ketat. Tim promosi atau tim papan bawah yang hanya bisa bertahan akan selalu hidup di ujung tanduk — satu gol lawan, dan tidak ada jalan kembali. PSIM butuh keberanian menyerang, butuh skema transisi yang dilatih serius, bukan sekadar berharap Cahya Supriadi tampil heroik setiap pekan. Kiper 23 tahun itu sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik sore tadi; ia tidak bisa disalahkan atas empat gol yang lahir dari keruntuhan kolektif di depannya.
Pertanyaan yang akan menghantui Bantul pekan depan: apakah manajemen masih sabar? Di sepak bola Indonesia, empat laga tanpa kemenangan sering cukup untuk membuat kursi pelatih goyang. Tapi mengganti pelatih di pekan ke-4 tanpa memperbaiki struktur permainan sama saja menukar nahkoda di tengah badai tanpa memperbaiki lambung kapal yang bocor.
Peta Persaingan Pekan 4: Persija Sendirian di Depan
Hasil ini mengubah peta persaingan yang pekan lalu masih berupa sikut-sikutan tiga tim. Madura United sudah tumbang 0-2 dari Persik Kediri kemarin — brace Eduardo Barbosa mengakhiri rekor tak terkalahkan Laskar Sape Kerrab — dan sekarang Persija memanfaatkan momentum itu dengan sempurna.
Dewa United masih punya satu laga di tangan: tandang ke markas Persib Bandung besok malam. Kalau Dewa menang di Bandung, perebutan puncak kembali memanas. Kalau tidak, Persija bisa bernapas lega sepekan penuh — keunggulan psikologis yang besar di liga maraton seperti ini.
Ada satu keuntungan tersembunyi dari kemenangan telak seperti ini yang jarang dibicarakan: selisih gol. Di akhir musim, perebutan gelar atau zona Asia sering ditentukan selisih gol, dan Persija kini mengoleksi +4 dari satu laga saja. Tim-tim yang menang besar di laga "seharusnya menang" sedang menabung modal untuk bulan-bulan penentuan nanti. Sebaliknya, PSIM kini menanggung -4 yang bisa terasa menyakitkan kalau nanti mereka terlibat perang degradasi. Di liga yang ketat, pembantaian di bulan Oktober bisa menentukan nasib di bulan Mei.
Buat Persija, ujian sesungguhnya justru baru dimulai. Memimpin klasemen di pekan ke-4 itu mudah dilupakan; yang diingat orang adalah siapa yang memimpin di pekan terakhir. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dibantah dari sore tadi di Bantul: tim Shin Tae-yong ini punya mentalitas pembunuh. Menang 1-0 itu tiga poin. Menang 4-0 dengan empat gol dalam 13 menit itu tiga poin plus teror buat semua calon lawan berikutnya.
Dan buat PSIM, minggu-minggu ke depan adalah tentang satu hal sederhana: berani. Berani keluar dari cangkang, berani menyerang, berani kalah dengan cara yang terhormat ketimbang kalah dengan cara yang sama berulang-ulang. Karena kalau polanya terus seperti ini — bertahan 77 menit lalu ambyar — musim ini akan terasa sangat panjang di Bantul.
Artikel ini melengkapi liputan pekan ke-4 kami — baca juga preview PSIM vs Persija sebelum laga untuk melihat seberapa jauh prediksi kami meleset dari kenyataan sore tadi.
Ditulis oleh Bang Sat, redaksi Offside Zone.
Belum ada Komentar untuk "Hasil PSIM vs Persija 0-4: 13 Menit Amarah Macan Kemayoran, Puncak Klasemen Direbut"
Posting Komentar