Raffi Ahmad Bakar Puluhan Miliar demi Persib & Borneo FC Bisa Ditonton Gratis
Bayangkan begini. Ada orang yang menghabiskan puluhan miliar rupiah untuk membeli sesuatu, lalu barang yang dibelinya itu dibagikan gratis ke seluruh Indonesia. Bukan diskon. Bukan promo. Gratis beneran.
Itulah yang dilakukan Raffi Ahmad lewat RANS Entertainment. Perusahaan milik presenter kondang itu membeli lisensi siaran ASEAN Club Championship (Shopee Cup) 2026/2027 — dan tujuannya satu: supaya laga-laga Persib Bandung dan Borneo FC Samarinda bisa ditonton masyarakat Indonesia tanpa bayar sepeser pun.
Pengumumannya disampaikan dalam konferensi pers di Le Nusa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (28/9/2026). Bukan acara kecil-kecilan: yang hadir Co-CEO MNC Group Angela Tanoesoedibjo, CEO Borneo FC Ponaryo Astaman, Deputy CEO Persib Bandung Adhitia Putra Herawan, sampai perwakilan SPORTFIVE Pte. Ltd. — perusahaan pemegang hak distribusi turnamen ini. Komposisinya saja sudah bicara: ini bukan sekadar gimmick artis, ini deal bisnis yang melibatkan pemegang hak siar resmi ASEAN Club Championship di Indonesia, yaitu MNC Group.
Fakta-Faktanya Dulu
- Siapa: RANS Entertainment, perusahaan milik Raffi Ahmad, berkolaborasi dengan MNC Group.
- Apa: Membeli lisensi siaran ASEAN Club Championship (Shopee Cup) 2026/2027 untuk pertandingan Persib Bandung dan Borneo FC.
- Berapa: Puluhan miliar rupiah. Raffi tidak menyebut angka pasti, tapi memberi gambaran: digit "M"-nya bukan satu digit. Dua digit miliar.
- Untuk apa: Agar masyarakat Indonesia bisa menonton full match secara gratis — termasuk lewat kanal YouTube RANS Entertainment.
- Kapan mulai tayang: 7 Oktober 2026, bertepatan dengan matchday pertama fase grup yang melibatkan wakil Indonesia.
- Siapa yang dilindungi: Dua wakil Indonesia di turnamen ini — Persib Bandung (juara Super League 2025/2026) dan Borneo FC Samarinda (runner-up).
Satu pernyataan Raffi yang paling dikutip media soal ini: "Ini kita beli, maksudnya beli supaya bisa disaksikan gratis sama seluruh masyarakat Indonesia." Kalimatnya sederhana, tapi implikasinya besar. Karena di Indonesia, nonton bola internasional itu hampir selalu identik dengan satu hal: bayar.
Bayar Mahal, Lalu Digratiskan: Logika Bisnisnya di Mana?
Ini bagian yang paling menarik — dan jujur saja, paling bikin orang mengernyit. Raffi menggelontorkan uang dua digit miliar untuk sebuah lisensi, lalu hasilnya digratiskan. Kalau dipikir pakai logika warung kopi, ini rugi bandar. Tapi Raffi bukan pemilik warung kopi. Dia pemilik mesin konten.
Pertama, yang dibeli bukan sekadar "hak menayangkan pertandingan". Yang dibeli adalah perhatian. Puluhan juta pasang mata yang akan menonton Persib dan Borneo berlaga di level Asia Tenggara adalah aset. Di era ekonomi atensi, perhatian adalah mata uang — dan RANS Entertainment adalah perusahaan yang hidup dari mengubah perhatian jadi uang: lewat iklan, sponsorship, brand placement, sampai traffic ke kanal YouTube mereka.
Kolaborasinya dengan MNC Group juga bukan kebetulan. MNC adalah pemegang hak siar resmi turnamen ini di Indonesia. RANS masuk sebagai mitra yang "membeli akses gratis" untuk publik. Modelnya mirip sponsor yang membayar supaya penonton tidak perlu bayar — bedanya, skalanya turnamen internasional dan yang disponsori adalah seluruh rakyat Indonesia yang mau nonton.
Kedua, ada dimensi publik yang tidak bisa diabaikan. Raffi saat ini menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. Ketika seorang pejabat negara — meski non-struktural — mengeluarkan uang pribadi puluhan miliar untuk kepentingan publik, itu bukan cuma berita hiburan. Itu pernyataan politik. Pesannya: saya tidak cuma bicara soal memajukan anak muda, saya keluar uang.
Ketiga — dan ini yang paling jarang dibahas — ada kalkulasi jangka panjang soal sepak bola itu sendiri. Raffi bilang, menonton full match itu penting supaya masyarakat bisa melihat permainan klub-klub dari negara lain. Tujuannya pembelajaran. "Kita bisa nyontek tim lawan supaya kita banyak pengalaman," katanya kurang lebih begitu. Ini sudut pandang pemilik klub, bukan sekadar artis. Raffi sendiri punya klub sepak bola. Dia tahu persis bahwa sepak bola Indonesia tidak akan maju kalau suporternya cuma nonton highlight 3 menit di media sosial.
Jadi, rugi? Belum tentu. Yang jelas, ini bukan filantropi murni dan bukan juga bisnis konvensional. Ini hibrida: separuh branding, separuh civic duty, separuh investasi konten. Dan justru di situlah letak orisinalitasnya — belum ada preseden artis Indonesia yang membeli lisensi siaran turnamen internasional lalu menggratiskan.
Raffi dan Bola: Bukan Orang Asing yang Tiba-Tiba Peduli
Skeptis boleh. "Ah, paling cuma pencitraan." Tapi kalau mau adil, rekam jejak Raffi di sepak bola bukan kemarin sore. Dia lahir di Bandung — dan dia sendiri yang bilang itu jadi alasan kedekatannya dengan Persib. Pemilik Borneo FC adalah sahabatnya. Dia pemilik klub sepak bola (RANS Nusantara FC) yang pernah merasakan pahit-manisnya mengelola tim di liga Indonesia.
Artinya, ketika dia bilang "saya senang bola", itu bukan kalimat basa-basi jumpa pers. Ini orang yang uangnya sudah pernah terbakar di sepak bola Indonesia lewat klubnya sendiri. Bedanya, kali ini dia membakar uang bukan untuk membeli pemain, melainkan untuk membeli akses tontonan bagi publik.
Ada ironi menarik di sini. Selama ini, keluhan terbesar suporter Indonesia soal sepak bola adalah dua hal: tiket mahal dan siaran berbayar. Raffi — yang notabene bukan pengurus PSSI, bukan pemilik Persib, bukan pemilik Borneo — justru yang turun tangan menyelesaikan keluhan kedua. PSSI sibuk urus timnas, klub sibuk urus skuad, federasi penyiar sibuk hitung rating. Malah artis yang mikir: gimana caranya rakyat nonton gratis?
Ini bukan pujian buta. Nanti kita bahas sisi kritisnya. Tapi sebagai fenomena, ini layak dicatat: untuk pertama kalinya dalam sejarah penyiaran sepak bola Indonesia, inisiatif "gratiskan siaran" datang dari sektor swasta-hiburan, bukan dari negara, bukan dari federasi.
Kenapa Ini Kabar Bagus Buat Malam Ini
Timing-nya tidak bisa lebih pas. Laga-laga wakil Indonesia di Shopee Cup 2026/27 baru saja dimulai. Kemarin malam (7/10), Borneo FC mencuri hasil imbang 0-0 di kandang Buriram United — juara bertahan dua edisi beruntun asal Thailand. Hasil yang, kalau jujur, di luar dugaan banyak orang. (Baca: Hasil Buriram United vs Borneo FC 0-0)
Dan malam ini, Kamis (8/10/2026) pukul 19.00 WIB, giliran Persib Bandung yang melakoni laga perdana Grup B: tandang ke markas Port FC di Stadion Thammasat, Thailand. Menurut kabar yang beredar, laga ini tayang live di RCTI — gratis, sesuai skema yang dibangun RANS dan MNC. (Baca: Jadwal Port FC vs Persib Bandung malam ini)
Coba pikir dampaknya. Hasil 0-0 Borneo di Buriram itu bukti bahwa klub Indonesia bisa bersaing di level ASEAN. Tapi bukti yang tidak ditonton orang ya cuma jadi arsip statistik. Dengan siaran gratis, momen-momen seperti itu bisa disaksikan jutaan orang secara langsung — termasuk anak-anak muda yang mungkin baru pertama kali nonton klub Indonesia main di kompetisi internasional.
Ada efek samping yang juga penting: menekan pembajakan. Selama ini, salah satu alasan orang nonton streaming ilegal adalah karena siaran resminya berbayar atau susah diakses. Ketika siaran resmi tersedia gratis dan mudah — TV free-to-air plus YouTube — alasan untuk buka situs bajakan makin tipis. Ini kabar baik buat semua pihak: pemegang hak siar, klub, bahkan buat ekosistem media yang selama ini dirugikan situs streaming ilegal.
Catatan Kritis: Jangan Telan Mentah-Mentah
Sekarang sisi yang perlu diwaspadai. Sebagus-bagusnya inisiatif ini, ada beberapa hal yang belum jelas dan layak dipertanyakan.
Pertama, cakupannya terbatas. Yang digratiskan adalah laga-laga Persib dan Borneo FC — bukan seluruh 56 pertandingan turnamen. Wajar, karena lisensi yang dibeli memang untuk itu. Tapi artinya, kalau kamu fans klub Thailand atau Vietnam yang juga main di turnamen ini, skema gratis ini tidak berlaku buat tim favoritmu. Ini inisiatif nasionalisme siaran, bukan revolusi penyiaran.
Kedua, keberlanjutannya belum teruji. Puluhan miliar untuk satu musim turnamen — itu uang yang besar bahkan untuk ukuran RANS. Kalau return-nya (dari iklan, sponsorship, traffic) tidak menutup biaya, apakah musim depan diulang? Atau ini cuma one-season wonder? Raffi tidak menjelaskan skema bisnis detailnya, dan wajar saja — tapi publik berhak bertanya apakah model "bayar lalu gratiskan" ini bisa bertahan atau cuma eksperimen mahal sekali jalan.
Ketiga, ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam: apakah puluhan miliar rupiah paling tepat dibelanjakan untuk lisensi siaran? Uang segitu bisa membangun beberapa akademi sepak bola usia dini, atau membiayai puluhan pelatih bersertifikasi. Memang, eksposur dan akses tontonan itu penting. Tapi akar masalah sepak bola Indonesia bukan di ruang nonton — melainkan di lapangan pembinaan. Siaran gratis membuat kita bisa melihat sepak bola bagus; akademi membuat kita bisa menghasilkan sepak bola bagus. Keduanya penting, tapi jangan sampai yang pertama membuat kita lupa yang kedua.
Keempat, transparansi. "Puluhan miliar" itu rentang yang lebar — Rp15 miliar dan Rp90 miliar sama-sama "puluhan miliar". Tanpa angka pasti, publik tidak bisa menilai kewajaran deal ini. Memang hak Raffi untuk tidak membuka angka bisnisnya. Tapi kalau inisiatif ini diklaim sebagai bentuk pengabdian publik, sedikit transparansi tidak akan menyakiti siapa pun.
Prediksi Redaksi: Ini Baru Permulaan
Kalau boleh menebak, langkah Raffi ini akan diikuti. Bukan karena semua artis tiba-tiba cinta bola, tapi karena logikanya masuk akal secara bisnis: di era streaming, yang menguasai perhatian massal memegang kunci monetisasi. Kalau rating siaran gratis Persib-Borneo ternyata meledak, jangan kaget kalau musim depan ada konglomerat lain yang meniru pola sama untuk kompetisi lain.
Yang lebih menarik: ini bisa jadi tekanan tidak langsung buat pemegang hak siar lain. Selama ini model bisnis siaran olahraga di Indonesia bertumpu pada paywall — Vidio, Vision+, dan kawan-kawan. Ketika ada preseden "bayar mahal lalu gratiskan", ekspektasi publik berubah. Orang jadi bertanya: kalau Shopee Cup bisa gratis, kenapa yang lain tidak? Tekanan ekspektasi seperti ini, dalam jangka panjang, bisa mengubah peta bisnis hak siar olahraga Indonesia.
Buat sepak bola Indonesia sendiri, momentumnya sedang bagus-bagusnya. Timnas baru saja juara FIFA ASEAN Cup 2026, ranking FIFA naik ke 116 dunia — terbaik dalam 20 tahun. Klub-klub mulai berani bersaing di level ASEAN, buktinya hasil imbang Borneo di kandang Buriram. Di tengah momentum seperti ini, siaran gratis bukan sekadar hiburan. Ini bahan bakar. Suporter yang bisa nonton timnya berjuang tanpa halangan biaya adalah suporter yang keterikatannya makin dalam.
Jadi, selamat buat Raffi dan RANS Entertainment atas keberaniannya bakar uang. Tapi ingat juga: membakar uang itu gampang, yang susah adalah memastikan apinya menghangatkan, bukan sekadar terang sesaat. Kita lihat musim ini. Kalau sampai Juni 2027 nanti skema ini masih jalan dan ratingnya bagus, barulah kita bisa bilang: ini bukan gimmick, ini terobosan.
Malam ini, 19.00 WIB, Port FC vs Persib. Gratis. Nyalakan TV, buka YouTube RANS, dan saksikan sendiri — apakah uang puluhan miliar itu terbayar lunas di lapangan hijau Thammasat.
Ditulis oleh Bang Sat, redaksi Offside Zone.

Belum ada Komentar untuk "Raffi Ahmad Bakar Puluhan Miliar demi Persib & Borneo FC Bisa Ditonton Gratis"
Posting Komentar