Comeback 8 Menit Arema di Kanjuruhan: Tertinggal 0-2, Imbang 2-2 Lawan Bhayangkara


Kanjuruhan hampir jadi saksi malam yang pahit buat Aremania. Selama 45 menit pertama, Arema FC dipermalukan Bhayangkara di kandang sendiri. Tertinggal dua gol, penalti dibatalkan VAR, dan tribun yang mulai terdengar murung. Tapi sepak bola memang aneh. Delapan menit di awal babak kedua mengubah segalanya: Arema menyamakan skor jadi 2-2 dan pulang dengan satu poin yang rasanya seperti kemenangan.

Laga pekan keempat Super League 2026/2027 ini digelar di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (10/10/2026) sore WIB. Kick-off 15.30 WIB. Hasilnya imbang 2-2, tapi jalan ceritanya jauh dari kata datar. Ada drama penalti yang dibatalkan, gol yang dianulir VAR, dan dua tim yang sama-sama merasa bisa menang, lalu sama-sama harus puas berbagi angka.

Babak Pertama: Bhayangkara Menghukum Setiap Kelengahan

Gol pertama datang cepat. Menit ke-15, Moussa Sidibe mengirim umpan matang ke Matias Ocampo, dan tanpa ampun Ocampo menaklukkan Adi Satryo. 0-1. Kanjuruhan terdiam.

Gol kedua lebih menyakitkan karena lahir dari kelengahan kolektif. Menit ke-31, bola dikuasai Allano Lima, diteruskan ke Sidibe, lalu disodorkan ke Milan Ristovski yang berdiri bebas di depan gawang. Penyelesaian dingin. 0-2. Bhayangkara, tim tamu, memimpin dua gol di kandang Singo Edan.

Arema sempat mendapat secercah harapan menjelang turun minum. Wasit Sance Lawita menunjuk titik putih setelah ada dugaan handball pemain Bhayangkara di kotak penalti. Tapi VAR memanggilnya ke pinggir lapangan. Setelah meninjau ulang, keputusan dibatalkan: bukan handball. Penalti hilang, harapan ikut layu. Babak pertama berakhir 0-2.

Babak Kedua: Delapan Menit yang Mengguncang Kanjuruhan

Pelatih Arema, Marcos Vinicius Santos Goncalves, tidak menunggu lama untuk bereaksi. Begitu babak kedua dimulai, ia menarik Hansamu Yama Pranata dan memasukkan Arkhan Fikri. Perubahan sederhana, efeknya besar. Lini tengah Arema langsung lebih hidup.

Menit ke-52, Kanjuruhan meledak. Berawal dari serangan balik cepat, Marcos Vinicius berdiri bebas di sisi kanan dan melepas tembakan keras yang tak terjangkau Awan Setho Raharjo. 1-2. Jarak tinggal satu gol, dan momentum berbalik total ke tuan rumah.

Arema mencium bau darah. Tekanan demi tekanan dilancarkan ke pertahanan Bhayangkara. Dan menit ke-60, gol penyeimbang tiba. Berawal dari situasi bola mati, umpan silang melambung ke kotak penalti dan disambut sundulan Oluwasegun Samuel Otusanya. Bola meluncur masuk ke gawang Awan Setho. 2-2. Hanya delapan menit dibutuhkan Arema untuk menghapus keunggulan dua gol Bhayangkara.

VAR Kembali Jadi Bintang: Gol Bhayangkara Dianulir

Drama belum selesai. Setelah skor imbang, jual beli serangan tersaji. Arema nyaris berbalik unggul lewat aksi Gabi di sisi kiri pada menit ke-74, sayang sontekannya masih melenceng tipis dari gawang.

Di sepuluh menit terakhir, giliran Bhayangkara yang mengancam. Pemain pengganti Nehar Sadiki dua kali mendapat peluang emas, tapi keduanya dimentahkan Adi Satryo yang tampil sigap di bawah mistar. Lalu menit ke-83, Bhayangkara sempat merayakan gol ketiga. Stadion menahan napas. Wasit meninjau VAR, dan gol dianulir.

Catat: VAR dua kali menentukan nasib laga ini. Pertama membatalkan penalti Arema, kedua menganulir gol Bhayangkara. Wasit Sance Lawita boleh dibilang menjalani sore yang berat, tapi dua keputusan besarnya berdiri di atas tinjauan ulang. Skor 2-2 bertahan sampai peluit panjang.

Kartu dan Catatan Laga

  • Gol: Matias Ocampo 15', Milan Ristovski 31' (Bhayangkara); Marcos Vinicius 52', Samuel Otusanya 60' (Arema)
  • Kartu kuning: Marcos Vinicius 42', Matheus Blade 69' (Arema); Matias Ocampo 45+3', Mauricio Vera 84' (Bhayangkara)
  • Penguasaan bola: 50% berbanding 50%, laga benar-benar seimbang
  • Klasemen: Arema dan Bhayangkara sama-sama mengoleksi 6 poin dari 4 laga, duduk di posisi 8 dan 9

Analisis: Kenapa Arema Selalu Mulai dengan Tertinggal?

Sekarang bagian yang penting. Satu poin memang hasil yang patut dirayakan setelah tertinggal dua gol. Tapi kalau dilihat lebih jujur, ada pola yang mengkhawatirkan di kubu Singo Edan: mereka selalu memulai laga dengan buruk.

Lihat empat laga pertama musim ini. Menang 4-0 atas Isenmulang itu pengecualian. Sisanya: imbang 3-3 melawan PSM setelah kebobolan duluan, imbang 1-1 melawan Persik, dan sekarang imbang 2-2 setelah tertinggal 0-2. Tiga dari empat laga, Arema harus mengejar ketertinggalan. Comeback itu heroik, tapi tim yang terus-menerus butuh heroik untuk menyelamatkan poin adalah tim yang punya masalah di 30 menit pertama.

Masalahnya bukan kualitas pemain. Skuad Arema di atas kertas salah satu yang terdalam di liga. Marcos Vinicius tajam, Otusanya kuat di duel udara, dan bangku cadangan mereka berisi nama-nama seperti Arkhan Fikri dan Mauro Zijlstra yang bisa mengubah laga. Masalahnya ada di intensitas awal. Bhayangkara mencetak dua gol dalam 31 menit bukan karena mereka jauh lebih bagus, tapi karena Arema memberi mereka ruang yang terlalu murah. Gol Ristovski lahir dari pemain yang berdiri bebas di depan gawang. Di level ini, itu bukan kesalahan individu semata, itu kegagalan organisasi pertahanan.

Untungnya, Marcos Santos menunjukkan satu kualitas yang tidak dimiliki semua pelatih: keberanian mengubah rencana di tengah jalan. Menarik Hansamu Yama saat turun minum dan memasukkan Arkhan Fikri adalah keputusan yang berisiko, apalagi di kandang sendiri di depan suporter yang sedang kecewa. Tapi justru perubahan itulah yang menghidupkan lini tengah Arema. Banyak pelatih di Liga Indonesia yang terlalu lama mempertahankan starting eleven yang sedang tenggelam. Santos tidak. Itu nilai plus yang patut dicatat.

Bhayangkara: Unggul 2-0 Lalu Lupa Cara Menang

Dari sisi tim tamu, ceritanya justru kebalikan dan tidak kalah menarik. Bhayangkara asuhan Oscar Bruzon bermain nyaris sempurna selama 45 menit. Dua gol, organisasi rapi, dan mereka bahkan sempat mencetak gol ketiga yang dianulir VAR. Lalu semuanya runtuh dalam delapan menit.

Ini bukan kebetulan. Tim yang unggul dua gol di babak pertama lalu kebobolan dua gol cepat di babak kedua biasanya punya satu dari dua masalah: kebugaran yang drop, atau mental yang goyah begitu lawan menaikkan tempo. Bhayangkara melakukan pergantian ganda di menit ke-64 (Ristovski dan Frengky Missa keluar, Anton SĂžjberg dan Firza Andika masuk) dan menarik kapten Kevin Sibille di menit ke-72. Itu pergantian yang defensif, sinyal bahwa Bruzon ingin mengunci kemenangan. Tapi mengunci kemenangan dengan mundur justru mengundang tekanan. Arema mencium ketakutan itu dan menghukumnya.

Ironisnya, Bhayangkara justru menciptakan peluang terbaik di penghujung laga lewat Nehar Sadiki. Artinya secara fisik mereka masih bisa menyerang. Jadi masalahnya lebih ke mental: begitu Arema menyamakan skor, Bhayangkara terlihat seperti tim yang tidak punya rencana B. Di liga yang ketat seperti musim ini, membuang keunggulan dua gol adalah dosa yang mahal.

VAR: Pahlawan yang Tidak Dirayakan Siapa Pun

Satu hal yang layak dibahas lebih serius: VAR dua kali jadi penentu di laga ini, dan dua-duanya benar secara prosedural. Penalti Arema dibatalkan karena memang bukan handball. Gol Bhayangkara dianulir setelah tinjauan ulang. Tidak ada kontroversi besar, tidak ada keributan berkepanjangan.

Ini penting karena narasi soal VAR di Liga Indonesia selama ini selalu negatif: lambat, merusak ritme, dan sering dipertanyakan keputusannya. Laga Arema vs Bhayangkara justru menunjukkan VAR bekerja sebagaimana mestinya, mengoreksi dua momen krusial tanpa drama berlebihan. Tentu, masih ada perdebatan soal konsistensi standar handball dan berapa lama waktu tinjauan. Tapi setidaknya sore itu di Kanjuruhan, teknologi melakukan tugasnya dan kedua kubu, mau tidak mau, harus menerimanya.

Akhir Pekan Para Comeback

Hasil ini juga menempatkan laga Arema vs Bhayangkara dalam satu tema besar pekan keempat: akhir pekan para comeback. Sehari sebelumnya, Persib bangkit dari ketertinggalan untuk menang 3-1 atas Port FC di Shopee Cup. Persita menang 2-1 atas Garudayaksa lewat gol injury time Aleksa Andrejic. Persebaya mencuri kemenangan 1-0 di kandang Isenmulang lewat penalti menit 45+3.

Ada yang berubah di Super League musim ini. Tim-tim tidak lagi menyerah begitu tertinggal. Kedalaman skuad membaik, pelatih lebih berani mengubah taktik di tengah laga, dan selisih kualitas antar tim semakin tipis. Buat penonton, ini kabar baik: hampir tidak ada laga yang mati sebelum menit ke-90. Buat tim seperti Bhayangkara yang unggul duluan, ini peringatan: tidak ada keunggulan yang aman.

Apa Artinya Buat Klasemen dan Laga Berikutnya

Dengan hasil ini, Arema dan Bhayangkara sama-sama mengoleksi 6 poin dan terjebak di papan tengah, posisi 8 dan 9. Di atas mereka, Persija melesat dengan 4 kemenangan beruntun usai membantai PSIM 4-0, sementara Madura United yang sempat memimpin harus rela turun setelah takluk 0-2 dari Persik.

Buat Arema, satu poin ini menunda pertanyaan besar, bukan menjawabnya. Mereka belum terkalahkan, tapi juga baru menang sekali dari empat laga. Tiga hasil imbang beruntun (kalau dihitung dari PSM, Persik, dan Bhayangkara) adalah sinyal tim yang sulit dikalahkan tapi juga sulit menang. Di liga seketat ini, terlalu banyak imbang sama bahayanya dengan kalah: poin terbuang satu per satu sementara rival di atas terus melaju.

PR terbesar Marcos Santos jelas: perbaiki 30 menit pertama. Arema tidak bisa terus mengandalkan remontada. Cepat atau lambat mereka akan bertemu tim yang tidak mengulangi kesalahan Bhayangkara, tim yang unggul dua gol lalu benar-benar mengunci laga. Kalau itu terjadi di Kanjuruhan, Aremania tidak akan semaaf ini.

Buat Bhayangkara, pelajarannya lebih sederhana tapi tidak kalah penting: belajar membunuh laga. Unggul 2-0 di kandang lawan adalah posisi emas. Tim-tim besar mengubah posisi seperti itu jadi kemenangan rutin. Bhayangkara mengubahnya jadi hasil imbang. Oscar Bruzon perlu menemukan cara agar timnya tetap berani menyerang saat unggul, bukan malah mundur dan menunggu dihukum.

Kesimpulan: Satu Poin yang Terasa Berbeda untuk Dua Tim

Arema pulang dengan perasaan lega yang bercampur khawatir. Lega karena selamat dari kekalahan memalukan di kandang, khawatir karena pola start lambat mereka belum juga sembuh. Bhayangkara pulang dengan perasaan sebaliknya: kecewa karena membuang kemenangan yang sudah di genggaman, tapi bisa sedikit tenang karena setidaknya tidak pulang dengan tangan kosong dari Malang.

Yang pasti, Kanjuruhan sore itu menyajikan salah satu laga paling menghibur di pekan keempat. Empat gol, dua keputusan VAR, dan delapan menit yang mengubah segalanya. Kalau Super League musim ini terus menyajikan drama seperti ini setiap pekan, tidak ada alasan buat suporter untuk melewatkan satu laga pun.

Baca juga: Hasil Persik vs Madura United 2-0: Brace Eduardo Barbosa Akhiri Rekor Tak Terkalahkan Laskar Sape Kerrab, Hasil Isenmulang vs Persebaya 0-1: Penalti Alex Martins di Menit 45+3, VAR Jadi Bintang Malam Itu, dan Dewa, Madura, Persija Saling Sikut: Perebutan Puncak Klasemen Super League Memanas di Pekan 4.

Ditulis oleh Bang Sat, redaksi Offside Zone.


 


Belum ada Komentar untuk "Comeback 8 Menit Arema di Kanjuruhan: Tertinggal 0-2, Imbang 2-2 Lawan Bhayangkara"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel