Hasil PSS Sleman vs PSM Makassar 3-0: Brace Hiromu Tanaka, Super Elja Pecah Telur
Tiga pekan jeda kompetisi mengubah segalanya buat PSS Sleman. Tim yang tiga laga awal musimnya babak belur tanpa satu pun poin kemenangan akhirnya meraih kemenangan perdana musim ini — dan caranya meyakinkan: menghajar PSM Makassar 3-0 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Minggu (11/10/2026) sore WIB. Di depan 14.054 penonton yang memadati tribun, Super Elang Jawa bermain berani, rapi, dan — yang paling penting — efektif.
Bintang malam itu bernama Hiromu Tanaka. Gelandang asal Jepang itu mencetak dua gol — brace — pada menit ke-34 dan ke-85, sementara Matheus Fornazari yang masuk sebagai pemain pengganti menutup pesta lewat sundulan di menit 90+2. Skor 3-0 ini bukan cuma tiga poin pertama PSS musim ini, tapi juga sinyal bahwa tim besutan Pieter Huistra mulai menemukan jalannya.
Jalannya laga: Tanaka memecah kebuntuan, PSM mati gaya
PSS sebenarnya sudah mengancam sejak awal. Peluang pertama datang dari Riko Simanjuntak yang menyambut umpan Tanaka, tapi tembakannya belum menemui sasaran. PSM bukan tanpa perlawanan — tim tamu sempat mengambil alih tekanan lewat Luka Bulatovic, Navarone Foor, Lars Veldwijk, dan Henhen Herdiana yang bergantian mencoba membuka pertahanan tuan rumah.
Kebuntuan pecah di menit ke-34. Berawal dari situasi bola pantul yang disambar Gustavo Tocantins, Tanaka dengan dingin menyambar dan menggetarkan jala gawang PSM yang dijaga Hilmansyah. Gol itu bertahan sampai turun minum, dan di situlah sebenarnya fondasi kemenangan PSS dibangun: mereka tidak panik ketika PSM menekan di awal babak kedua.
Memasuki babak kedua, PSM memang meningkatkan tempo. Peluang emas sempat datang dari sepakan Stefan Jevtoski di menit ke-50, lalu Gala Pagamo menusuk dari sisi kiri tapi tendangannya melebar tipis. Ketika PSM sedang berada di momentumnya, PSS justru menunjukkan kedewasaan baru: bertahan dengan disiplin, lalu menyerang balik. Sundulan Tocantins yang ditepis kiper PSM di menit ke-68 jadi peringatan, sebelum Tanaka menyelesaikan cerita.
Di menit ke-85, Tanaka melakukan tusukan dari sisi kiri dan mengeksekusi bola ke tiang dekat — gagal dijangkau Hilmansyah. Gol kedua itu praktis membunuh pertandingan. Dan sebagai penegas, Fornazari yang baru masuk menit ke-72 menggantikan Tocantins menyambut umpan silang Kim Jeffrey Kurniawan dengan sundulan ke pojok gawang di masa injury time. 3-0. Maguwoharjo meledak.
Tiga pekan yang mengubah PSS
Kalau ada satu hal yang paling menarik dari laga ini, itu adalah kata-kata Pieter Huistra usai pertandingan. Pelatih asal Belanda itu secara terbuka mengakui bahwa jeda tiga pekan FIFA Matchday adalah kunci segalanya.
"Kita lihat laga hari ini, ada waktu tiga pekan FIFA Matchday yang kita pakai untuk kerja keras memperbaiki tim. Tim bermain luar biasa. Kita berjuang bersama dan main bagus untuk bisa dapatkan tiga poin," ujar Huistra.
Ini bukan basa-basi pelatih biasa. Tiga kekalahan beruntun di awal musim sempat membuat kursi Huistra goyang — wajar, PSS adalah klub dengan fanbase paling vokal di Indonesia dan mereka tidak dikenal sabar. Tapi alih-alih memecat atau panik belanja pemain baru di bursa yang sudah tutup, manajemen membiarkan Huistra bekerja. Tiga minggu itu dipakai untuk satu hal yang paling membedakan PSS kemarin: keberanian memainkan bola-bola pendek.
Huistra sendiri menyoroti hal itu: permainan berbasis umpan pendek, kedisiplinan, dan konsistensi. "Keberanian memainkan bola pendek mencerminkan peningkatan kepercayaan diri para pemain," katanya. Dan memang, gol pertama PSS lahir dari kombinasi permainan pendek yang rapi, bukan dari bola panjang asal-asalan atau sekadar mengandalkan duel fisik.
Di sinilah letak nilai plus Huistra sebagai pelatih: dia tahu timnya tidak bisa menang dengan cara yang sama setiap pekan. Melawan tim sekelas PSM yang punya pemain asing berpengalaman seperti Dusan Lagator dan Nenad Lalic, PSS justru memenangkan duel teknik dan kesabaran — dua hal yang biasanya diasosiasikan dengan tim yang lebih "mewah" secara materi pemain.
Tanaka: mesin Jepang yang mulai panas
Hiromu Tanaka pantas dapat satu seksi sendiri. Brace kemarin bukan kebetulan — sepanjang pertandingan dia adalah jantung PSS. Gol pertama memanfaatkan bola muntah, gol kedua hasil tusukan individual yang klinis. Tapi di luar dua gol itu, hampir semua serangan berbahaya PSS melewati kakinya: umpan ke Riko Simanjuntak di awal laga, kombinasi dengan Tocantins, sampai pergerakan tanpa bola yang terus mengobrak-abrik lini tengah PSM.
Ini mengingatkan pada tren yang makin jelas di Super League musim-musim terakhir: pemain Jepang sebagai playmaker tengah terbukti sangat cocok dengan ritme sepak bola Indonesia. Mereka punya disiplin taktik Eropa, teknik yang rapi, dan — yang sering dilupakan — etos kerja yang tidak kenal kompromi. Tanaka, di usia dan pengalamannya, membawa ketiganya ke Sleman.
Yang menarik, PSS kemarin tidak bergantung pada satu striker tunggal. Tocantins memang ditarik keluar di menit ke-72, tapi pengorbanannya terbayar: Fornazari yang masuk justru mencetak gol sundulan. Kedalaman skuad seperti ini — di mana pemain pengganti benar-benar mengubah laga — adalah kemewahan yang tidak dimiliki PSS di tiga laga awal. Dan itu dibangun dalam tiga minggu latihan, bukan dibeli di bursa transfer.
Di sisi lain: PSM makin tenggelam
Harus jujur dibilang: PSM Makassar sedang dalam masalah serius. Kekalahan 3-0 ini membuat Juku Eja tertahan di posisi ke-15 dengan koleksi dua poin dari empat laga. Satu-satunya tim di bawah mereka yang kondisinya lebih parah adalah tim-tim yang belum juga meraih kemenangan.
Yang mengkhawatirkan bukan cuma hasilnya, tapi caranya. PSM kemarin sebenarnya tidak bermain buruk-buruk amat di babak pertama — mereka punya peluang, mereka menekan. Tapi begitu tertinggal, tim asuhan Darije Kalezic terlihat kehabisan ide. Pergantian pemain di babak kedua (Gala Pagamo, Resky Fandi, Achmat Fahrul, Luka Cumic, Kodai Tanaka) tidak mengubah apa-apa. Tidak ada plan B yang jelas ketika plan A gagal.
Bandinkan dengan musim-musim sebelumnya ketika PSM dikenal sebagai tim yang sulit dikalahkan dan punya identitas permainan yang jelas. Musim ini, dengan materi pemain yang sebenarnya tidak jelek-jelek amat — ada nama seperti Veldwijk, Foor, dan Lagator — PSM justru terlihat seperti tim yang belum menemukan jati dirinya. Kalau tren ini berlanjut sampai jeda paruh musim, kursi Kalezic bisa jadi bahan pembicaraan yang serius di Makassar.
Satu catatan statistik yang perlu digarisbawahi: ini kedua kalinya dalam dua musim PSS mengalahkan PSM tepat setelah periode sulit. Musim lalu, PSS juga mengakhiri empat kekalahan beruntun dengan kemenangan 3-1 atas PSM di Maguwoharjo. Ada sesuatu tentang PSM yang sepertinya selalu jadi "obat" yang tepat buat PSS yang sedang terluka. Kebetulan? Mungkin. Tapi pola dua musim beruntun seperti ini terlalu menarik untuk diabaikan.
Klasemen pekan 4: belum saatnya PSS jumawa
Kemenangan ini membawa PSS naik ke peringkat ke-12 dengan tiga poin. Posisi yang — mari jujur — masih jauh dari kata aman atau membanggakan. Tapi konteksnya penting: PSS memulai musim dengan tiga kekalahan beruntun, dan di liga yang ketat seperti Super League musim ini, satu kemenangan meyakinkan bisa mengubah psikologi tim sepenuhnya.
Persaingan di papan atas pekan 4 sendiri sedang memanas — Dewa United, Madura United, dan Persija saling sikut di puncak. PSS tidak sedang berlomba ke sana dulu. Target realistis mereka sekarang adalah menjauh dari zona bawah dan membangun konsistensi.
Dan ujian sesungguhnya justru datang sekarang. Huistra menyebut kemenangan ini sebagai "modal psikologis penting menjelang dua laga tandang mendatang". Lawatan berikutnya adalah ke markas Persebaya Surabaya — tim yang baru saja menang tipis 1-0 atas Isenmulang dan dikenal sangat kuat di kandang. Dua laga tandang beruntun akan menentukan apakah kemenangan atas PSM ini awal kebangkitan atau sekadar euforia sesaat.
Sejarah mengajarkan skeptisisme yang sehat: tim-tim yang menang besar di kandang lalu hancur di tandang bukan cerita baru di sepak bola Indonesia. PSS harus membuktikan bahwa perubahan tiga pekan terakhir adalah perubahan sistem, bukan sekadar keberuntungan satu malam di Maguwoharjo.
Apa yang bisa dipelajari dari laga ini
Ada tiga pelajaran yang menarik buat penikmat bola Indonesia dari laga kemarin.
Pertama, jeda kompetisi itu berharga — kalau dipakai dengan benar. Banyak klub Indonesia memperlakukan jeda FIFA Matchday sebagai liburan. PSS membuktikan bahwa tiga minggu latihan terstruktur bisa mengubah tim yang babak belur jadi tim yang bermain berani. Ini pelajaran buat semua klub: investasi di sesi latihan kadang lebih murah dan lebih efektif daripada belanja pemain baru.
Kedua, kesabaran manajemen membuahkan hasil. Tiga kekalahan beruntun di klub sebesar PSS biasanya berujung pada pemecatan pelatih. Manajemen memilih percaya pada proses Huistra, dan kemarin mereka dibayar lunas. Tentu, satu kemenangan belum membuktikan apa-apa — tapi setidaknya ini menunjukkan bahwa keputusan tidak panik kadang adalah keputusan terbaik.
Ketiga, dan ini yang paling penting buat suporter PSS: tim ini punya fondasi untuk bermain bagus. Gol-gol kemarin bukan gol keberuntungan — semuanya lahir dari skema yang jelas, pergerakan yang terlatih, dan eksekusi yang klinis. Kalau fondasi ini dijaga, PSS bukan cuma akan selamat dari degradasi, tapi bisa jadi kuda hitam yang mengganggu tim-tim papan atas.
Sementara itu, hasil-hasil pekan 4 lainnya juga menunjukkan betapa kompetitifnya Super League musim ini — Java United menang 2-1 atas Borneo FC lewat free kick Brambilla, dan Persib harus puas berbagi poin 2-2 dengan Dewa United di Jalak Harupat. Tidak ada tim yang bisa menang mudah musim ini, dan itu kabar baik buat kualitas liga secara keseluruhan.
Ditulis oleh Bang Sat, redaksi Offside Zone.
Belum ada Komentar untuk "Hasil PSS Sleman vs PSM Makassar 3-0: Brace Hiromu Tanaka, Super Elja Pecah Telur"
Posting Komentar