Kecewa Indonesia Bantai Bangladesh 9-2, Pakar Malaysia Minta FIFA Bikin Divisi 2 untuk Tim Lemah
Ada yang lucu dari kegembiraan Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Di saat suporter Garuda masih merayakan, di seberang Selat Malaka ada pakar yang justru kecewa berat. Bukan kecewa karena timnya kalah — Malaysia bahkan tak terkalahkan dan finis ketiga — melainkan kecewa karena Indonesia menang terlalu besar.
Datuk Richard Scully, pakar sepak bola Malaysia, mengaku kecewa berat menyaksikan Indonesia membantai Bangladesh 9-2 pada laga terakhir Grup A, Kamis (1/10/2026) malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Saking kecewanya, ia menyerukan agar FIFA mempertimbangkan perubahan struktural: tim-tim lemah sebaiknya ditempatkan di divisi kedua, bukan divisi pertama.
Pernyataan itu tentu bikin kening berkerut. Sebab yang "kecewa" adalah pihak yang sebetulnya ikut bermain dalam drama yang sama — dan nyaris menang di dalamnya.
Drama yang Membuat Scully Kecewa
Buat yang sempat melewatkan, begini ceritanya. Laga pamungkas Grup A mempertemukan Indonesia melawan Bangladesh di SUGBK, berbarengan dengan Malaysia melawan Singapura di Stadion Si Jalak Harupat. Kedua tim mengoleksi poin sama, dan perebutan posisi puncak grup ditentukan lewat hitung-hitungan yang bikin deg-degan.
Indonesia menang 9-2. Malaysia menang 6-0 atas Singapura. Hasilnya: kedua tim sama-sama mengoleksi 7 poin dengan selisih gol identik +9. Indonesia berhak atas posisi puncak — dan tiket final — karena unggul produktivitas gol: 11 gol berbanding 9 gol milik Malaysia, sesuai aturan tie-break resmi FIFA ASEAN Cup 2026.
Yang membuat laga Indonesia dramatis: Garuda butuh dua gol tambahan di masa injury time untuk menyalip Malaysia. Indonesia menutup babak pertama dengan keunggulan 6-1, tapi setelah jeda sempat kesulitan menambah gol sementara Malaysia terus memperlebar keunggulan atas Singapura. Lalu datanglah tiga gol setelah menit ke-90 — Luke Vickery di menit ke-90, Kevin Diks lewat sundulan di menit 90+6, dan Mitchell Baker di menit 90+7 — yang mengunci kemenangan 9-2 sekaligus posisi puncak Grup A. FIFA bahkan secara khusus menyoroti perjuangan itu di situs resminya.
Dari sinilah protes Malaysia bermula. Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) mengirimkan permintaan resmi kepada FIFA untuk menjelaskan perubahan waktu tambahan pada laga Indonesia kontra Bangladesh — yang semula diumumkan dua menit, kemudian berubah menjadi tujuh menit. Di tujuh menit itulah dua gol penentu lahir.
Dan di sinilah Richard Scully masuk dengan komentarnya yang lebih besar dari sekadar protes prosedural: bukan hanya soal injury time, tapi soal eksistensi tim-tim lemah di turnamen itu sendiri.
Ironi yang Tak Disadari Scully
Mari jujur sejenak. Usulan Scully terdengar seperti prinsip mulia tentang "kualitas kompetisi". Tapi sulit untuk tidak melihat ironinya: Malaysia sendiri pada malam yang sama sedang berusaha melakukan hal yang persis sama — membantai tim yang lebih lemah demi menumpuk gol.
Kemenangan 6-0 Malaysia atas Singapura bukan kebetulan. Itu adalah upaya sadar untuk memperlebar selisih gol dalam persaingan hitung-hitungan melawan Indonesia. Malaysia tidak bermain "positif" demi keindahan sepak bola semata — mereka butuh gol, banyak gol, dan mereka mengejarnya. Bedanya dengan Indonesia: mereka kurang dua gol.
Jadi ketika Scully mengaku kecewa melihat "tim-tim lemah menelan kekalahan dengan skor telak", yang sebenarnya terjadi adalah: timnya kalah dalam permainan yang sama, dengan aturan yang sama, dan dengan strategi yang sama. Yang membedakan hanya hasil akhirnya.
Ini bukan untuk meremehkan Malaysia. Justru sebaliknya — catatan Scully soal Malaysia patut diapresiasi: Harimau Malaya finis ketiga tanpa kebobolan dalam empat pertandingan di bawah pelatih interim Tan Cheng Hoe, menang 1-0 atas Vietnam di perebutan tempat ketiga, dan Scully sendiri memuji mereka karena "cukup berani memainkan sepak bola positif, tidak bermain bertahan atau hanya duduk santai". Itu pencapaian yang solid.
Tapi justru karena Malaysia tampil bagus itulah usulan "divisi 2" terasa aneh. Kalau tim yang nyaris juara grup dan tak terkalahkan saja merasa kompetisi ini bermasalah karena ada tim lemah — masalahnya di mana, sebenarnya?
Yang Dilupakan: Bangladesh Justru Merasa Terhormat
Ada satu suara yang hilang dari perdebatan Scully, dan itu suara yang paling penting: suara Bangladesh sendiri.
Federasi Sepak Bola Bangladesh (BFF) merilis pernyataan resmi usai tersingkir — sebagai tim undangan, mereka menutup kiprah di posisi juru kunci Grup A dengan tiga kekalahan beruntun. Isi pernyataannya? Bukan protes, bukan rasa malu, melainkan apresiasi dan terima kasih yang tulus kepada FIFA.
Mereka merasa terhormat bisa ambil bagian. Dan itu masuk akal. FIFA ASEAN Cup 2026 adalah edisi perdana turnamen ini di bawah bendera FIFA, dan kehadiran tim undangan seperti Bangladesh adalah bagian dari misinya: mengangkat standar sepak bola kawasan, memberi pengalaman bertanding level internasional kepada tim yang jarang mendapatkannya.
Usulan Scully untuk memisahkan tim lemah ke "divisi 2" justru membunuh misi itu dari akarnya. Turnamen regional yang memisahkan pesertanya berdasarkan kekuatan bukanlah turnamen pengembangan — itu sekadar klub eksklusif. Dan pertanyaannya: siapa yang menentukan siapa yang "lemah"? Singapura yang dibantai Malaysia 6-0, ikut turun ke divisi 2 juga? Lalu siapa yang tersisa?
Skor telak dalam sepak bola bukan fenomena baru dan bukan monopoli Asia Tenggara. Di kualifikasi Piala Dunia zona mana pun, tim-tim raksasa rutin berpesta gol atas tim kecil. Bedanya dengan laga Indonesia vs Bangladesh: pesta gol ini bukan arogansi, melainkan keharusan aritmetika. Berhenti di angka 5-0 atau 6-0 malam itu sama artinya dengan menyerahkan tiket final ke Malaysia. Tidak ada tim waras yang akan berhenti mencetak gol dalam situasi seperti itu.
Yang Sebenarnya Terluka: Bukan Skornya, Tapi Caranya
Kalau dibaca lebih dalam, kemarahan dari kubu Malaysia sebenarnya bukan soal angka 9-2. Angka itu hanyalah permukaan. Yang benar-benar melukai adalah caranya: perubahan injury time dari dua menit menjadi tujuh menit, dan dua gol penentu yang lahir di masa tambahan itu.
Itulah mengapa FAM mengajukan protes formal — bukan soal skor, tapi soal prosedur. Dan protes prosedural seperti itu sah-sah saja dalam sepak bola. Pengelolaan waktu pertandingan memang bagian penting dari pelaksanaan laga, dan FIFA sebagai penyelenggara memang wajib transparan soal dasar perubahan tersebut.
Tapi di sinilah letak masalahnya: alih-alih fokus pada pertanyaan prosedural yang legitimate, Scully melompat ke kesimpulan struktural yang jauh lebih besar — menyingkirkan tim lemah dari turnamen. Itu seperti karena tidak puas dengan keputusan wasit, lalu mengusulkan agar tim lawan didegradasi. Emosinya bisa dipahami, logikanya tidak nyambung.
Dan perlu dicatat: hingga kini tidak ada keputusan FIFA yang membatalkan hasil laga tersebut. Indonesia melaju ke final, mengalahkan Thailand 2-2 (4-2 lewat adu penalti) di SUGBK pada Senin (5/10/2026), dan mengangkat trofi juara. Sejarah sudah tercatat.
Cermin Buat Indonesia: Jangan Terlena Euforia
Sekarang, giliran cermin diarahkan ke kita sendiri. Polemik Scully — seberapapun ironisnya — menyimpan peringatan yang valid buat Timnas Indonesia: kemenangan 9-2 atas Bangladesh bukanlah ukuran kekuatan Garuda yang sebenarnya.
Calvin Verdonk, bek yang kini membela LOSC Lille, sudah mengingatkan hal ini selepas final. Ia menyebut laga final melawan Thailand bisa jadi gambaran untuk Piala Asia 2027, tapi ia juga menegaskan Jepang "berada di level yang berbeda" dan Indonesia masih harus terus berkembang. Targetnya realistis: perempat final Piala Asia 2027, dengan peluang nyata melawan Thailand dan Qatar di Grup F.
John Herdman pun sudah memutar fokus. Pelatih asal Inggris itu mengonfirmasi Indonesia akan menjalani dua pertandingan besar pada FIFA Matchday November 2026 — lawan yang belum diumumkan, tapi disebutnya berkualitas tinggi — sebagai bagian dari persiapan menuju putaran final Piala Asia 2027 di Arab Saudi, Januari-Februari 2027. Kapten Jay Idzes juga dipastikan kembali setelah absen di ASEAN Cup karena cedera.
Itulah ujian yang sesungguhnya. Melawan tim-tim selevel Bangladesh, Indonesia memang seharusnya menang besar — itu bukan prestasi, itu kewajiban. Prestasi diukur saat menghadapi Jepang, Qatar, atau Thailand yang sudah memberikan perlawanan sengit di final kemarin. Ranking FIFA Indonesia yang kini naik ke posisi 116 dunia — terbaik dalam 20 tahun — adalah modal, bukan mahkota.
Rivalitas yang Makin Panas
Pada akhirnya, episode Scully ini menambah satu bab baru dalam rivalitas Indonesia-Malaysia yang memang tidak pernah dingin. Dari protes injury time FAM, komentar Scully soal divisi 2, sampai sentilan-sentilan pemain di media sosial — semua ini adalah bumbu yang membuat sepak bola Asia Tenggara hidup.
Dan mungkin itu sisi positif yang tak disadari Scully: pernyataannya justru membuat kemenangan 9-2 Indonesia semakin dikenang. Tanpa protes dan tanpa usulan divisi 2, laga itu hanyalah satu dari banyak kemenangan telak yang terlupakan. Dengan polemik ini, ia menjadi cerita — tentang drama injury time, tentang hitung-hitungan gol, tentang tetangga yang kecewa karena kalah hitung-hitungan.
Kenapa Usulan "Divisi 2" Tidak Akan Terjadi
Terlepas dari emosi di baliknya, usulan Scully nyaris mustahil diadopsi FIFA — dan alasannya sederhana: tidak ada insentifnya. FIFA ASEAN Cup 2026 justru dirancang sebagai panggung inklusif; memecahnya menjadi dua divisi akan menggandakan biaya penyelenggaraan, memecah nilai komersial, dan mengurangi daya tarik sponsor yang justru datang karena turnamen ini mempertemukan yang kuat dan yang sedang berkembang.
Sejarah juga tidak berpihak pada gagasan semacam ini. Format turnamen regional di seluruh dunia justru bergerak ke arah ekspansi — Piala Asia yang diperluas ke 24 tim, Piala Dunia ke 48 tim — bukan ke arah penyusutan. Logika FIFA konsisten: semakin banyak tim yang terpapar kompetisi level tinggi, semakin cepat kesenjangan menyempit. Bangladesh yang hari ini kebobolan sembilan gol bisa jadi lawan yang jauh lebih sulit lima tahun dari sekarang, justru karena mereka pernah merasakan atmosfer SUGBK yang penuh.
Dan ada satu hal yang luput dari perhitungan Scully: tanpa Bangladesh di grup itu, tidak akan ada drama injury time yang membuat FIFA sendiri menulis artikel khusus tentangnya. Turnamen butuh cerita, dan cerita lahir dari ketidakpastian — termasuk ketidakpastian apakah tim favorit bisa mencetak gol yang mereka butuhkan sebelum peluit panjang. Menghilangkan tim lemah berarti menghilangkan sebagian cerita itu.
Sepak bola memang begitu. Kadang yang paling diingat bukan trofinya, melainkan siapa yang paling berisik saat kalah. Dan kali ini, yang berisik bukan yang kalah di lapangan — melainkan yang kalah di kalkulator.
Ditulis oleh Bang Sat, redaksi Offside Zone.
Belum ada Komentar untuk "Kecewa Indonesia Bantai Bangladesh 9-2, Pakar Malaysia Minta FIFA Bikin Divisi 2 untuk Tim Lemah"
Posting Komentar