Direksi Manchester United Akui Gagal di Bursa Transfer: Start Terburuk dalam 40 Tahun

Direksi Manchester United Akui Gagal di Bursa Transfer: Start Terburuk dalam 40 Tahun

Sebuah pengakuan yang jarang terdengar dari ruang direksi klub sebesar Manchester United akhirnya pecah ke publik. Menurut laporan The Sun yang beredar Selasa (13/10/2026) ini, para petinggi United secara privat mengakui bahwa bursa transfer musim panas 2026 berjalan jauh dari rencana. Bahasa halusnya: gagal. Bahasa suporternya: kacau.

Pengakuan ini tidak datang tiba-tiba. Ia datang setelah enam pekan Premier League yang membuat Old Trafford berubah dari teater mimpi jadi panggung ejekan. Satu kemenangan dari enam laga. Enam poin. Peringkat 12. Itu adalah start terburuk Manchester United dalam 40 tahun — terakhir kali mereka seburuk ini adalah musim 1986/87, era sebelum Alex Ferguson benar-benar menancapkan kukunya.

Sabtu lalu, Old Trafford kembali jadi saksi bisu. United ditahan imbang 1-1 oleh Tottenham Hotspur — tim yang datang sebagai juru kunci klasemen. Suporter menyiuli tim kesayangannya sendiri di tiga momen berbeda sepanjang laga. Bryan Mbeumo sempat memberi harapan lewat gol indahnya, tapi sundulan Dominic Solanke di masa injury time membungkam semuanya.

Michael Carrick tampak murung di pinggir lapangan Old Trafford

Dan yang paling menyakitkan? Dua pemain yang seharusnya memperkuat United malah memperkuat tim lawan di laga itu.

Target Incaran Dibajak Rival Satu per Satu

Sebelum bursa transfer musim panas dibuka, United punya daftar belanja yang jelas. Empat nama ada di urutan teratas: Elliot Anderson, Mateus Fernandes, Aurelien Tchouameni, dan Ederson dari Atalanta. Rencananya rapi, anggarannya ada. Tapi realisasinya? Berantakan.

Elliot Anderson, yang sudah menetapkan pilihannya, pindah ke Manchester City sejak Juli. Tottenham menyalip United untuk mendapatkan Mateus Fernandes, lalu menambah Sandro Tonali dengan mahar £100 juta. Kesepakatan £35 juta untuk Ederson runtuh di detik-detik akhir. Tchouameni tak pernah benar-benar dekat.

Ironinya tak berhenti di situ. Anderson dan Tonali — dua pemain yang ada di daftar teratas United — justru tampil sebagai aktor kunci ketika tim sepuluh pemain City dan Spurs membawa pulang hasil dari Old Trafford. Bayangkan rasanya: pemain yang kamu incar musim panas kemarin, kini mempermalukanmu di kandangmu sendiri, berbaju rivalmu.

Ini bukan sekadar soal gagal beli pemain. Ini soal United kalah cepat, kalah meyakinkan, dan kalah menarik dibanding klub yang — setidaknya di atas kertas — seharusnya berada di bawah mereka. Tottenham, yang datang ke Old Trafford sebagai juru kunci, justru punya skuad yang lebih meyakinkan dari tuan rumah.

Yang Datang Malah Pilihan "Darurat"

Setelah gagal mengejar target utama, United akhirnya menutup bursa dengan tiga nama: Youri Tielemans, Andrey Santos, dan Carlos Baleba. Di atas kertas, bukan nama-nama yang memalukan. Tapi menurut laporan yang sama, direksi mengakui bahwa Tielemans dan Santos berada "jauh di bawah daftar" prioritas mereka.

Tielemans direkrut lewat klausul pelepasan £35 juta. Masalahnya: dia berusia 29 tahun, berposisi gelandang serang, dan berada di luar rentang usia 22–26 tahun yang selama ini jadi patokan kebijakan rekrutmen United era INEOS. Dengan kata lain, United membeli pemain yang tidak cocok dengan filosofi transfer mereka sendiri — tanda panik, bukan tanda rencana.

Andrey Santos ditebus £50 juta, tapi sejauh ini nyaris tak mendapat kesempatan bermain. Uang segitu untuk pemain yang hanya menghangatkan bangku cadangan. Sementara itu, Carlos Baleba — satu-satunya rekrutan yang memang target jangka panjang — baru melakoni debutnya akhir pekan lalu melawan Spurs.

Belanja musim panas United total hanya £155 juta, turun tajam dari £225,2 juta musim sebelumnya yang dipakai untuk mendatangkan Matheus Cunha, Bryan Mbeumo, Benjamin Sesko, dan Senne Lammens. Dan satu kebutuhan paling mendesak — bek kiri dan striker — justru dibiarkan kosong begitu saja.

Luke Shaw Sendirian di Pos Bek Kiri

Ini bagian yang paling sulit dipercaya dari saga transfer United musim panas ini. Michael Carrick kini hanya punya satu bek kiri senior di seluruh skuad: Luke Shaw. Satu. Untuk musim yang berpotensi berjalan 50–60 pertandingan di semua kompetisi.

Ketika Shaw tak tersedia, Carrick terpaksa berimprovisasi. Patrick Dorgu — yang musim lalu lebih sering dipasang sebagai winger kiri — digeser ke belakang. Noussair Mazraoui, bek kanan natural, dipaksa main di sisi berlawanan dan kehilangan sebagian besar ancaman ofensifnya. Itu bukan taktik, itu tambal sulam.

Direksi tahu kebutuhan ini. Mereka tahu sejak awal. Dan mereka memilih untuk tidak memperkuatnya. Kalau ada satu keputusan yang paling menggambarkan betapa amburadulnya perencanaan United musim panas ini, ya yang ini.

Di lini depan, situasinya tak jauh lebih baik. United gagal menemukan jalan keluar untuk Joshua Zirkzee, striker yang tampaknya tak punya masa depan jangka panjang di Old Trafford. Satu-satunya tambahan di sektor penjaga gawang adalah Karl Darlow, kiper gratisan yang kontraknya di Leeds United habis. Bukan rekrutan yang mengubah nasib.

Angka-Angka yang Bikin Malu

Mari kita bicara angka, karena angka tidak bisa dibantah. Enam laga Premier League, satu kemenangan, tiga imbang, dua kalah, enam poin. Terakhir kali United start seburuk ini, tahun 1986, lagu hits-nya masih kaset pita.

Tersingkir dari Carabao Cup oleh Brighton — dan itu bukan sekadar tersingkir. Itu adalah kekalahan pertama United di Old Trafford setelah unggul dua gol sejak September 1976. Lima puluh tahun rekor kandang hancur dalam satu malam.

Kemenangan terakhir United? Tepat sebulan lalu, 10 September, di Liga Champions melawan Sabah FK. Sejak itu: tanpa kemenangan di semua kompetisi. Tiga laga liga terakhir melawan tim yang bermain dengan sepuluh orang — semuanya tanpa kemenangan, dua di antaranya berakhir kalah.

Statistik yang terakhir itu mungkin yang paling mengkhawatirkan. United tak bisa mengalahkan tim yang kekurangan pemain. Bukan soal kualitas individu semata — ini soal mentalitas, soal struktur permainan, soal tim yang kehilangan cara untuk menang.

Michael Carrick di Ujung Tanduk

Tekanan kini mengarah ke satu nama: Michael Carrick. Ironis, karena dialah orang yang setahun lalu dianggap penyelamat. Carrick mengambil alih awal 2026 setelah RĂºben Amorim pergi menyusul hasil imbang melawan Leeds. Darren Fletcher sempat jadi interim, tapi era singkatnya dibuka dengan kekalahan 2-1 dari Brighton di Piala FA.

Lalu datang Carrick. Kemenangan beruntun atas Manchester City dan Arsenal. Formasi 4-2-3-1 dikembalikan. Kobbie Mainoo diberi peran lebih besar. United mengoleksi poin liga terbanyak dibanding tim mana pun di paruh kedua musim. Finis ketiga, lolos Liga Champions, kontrak permanen dua tahun ditandatangani 22 Mei.

Dan sekarang? Rumor pemecatan mulai beredar. Nama Antonio Conte disebut-sebut — apalagi setelah Conte pernah bilang ingin melatih klub yang "sedikit kehilangan arah sejarahnya". Kebetulan yang terlalu pas untuk diabaikan.

Jadwal ke depan tak memberi ampun. Selasa malam ini (waktu Inggris), United tandang ke Atletico Madrid di Liga Champions — salah satu laga tandang tersulit di Eropa. Akhir pekan berikutnya, lawatan ke Elland Road menghadapi Leeds United. Dua laga yang bisa menentukan apakah Carrick masih duduk di kursi panas Old Trafford bulan November nanti.

Penilaian Redaksi: Masalah United Bukan (Cuma) Pelatihnya

Di sinilah kita harus jujur, dan mungkin ini bagian yang tidak akan kamu baca di media Inggris yang sibuk menggoreng rumor pemecatan. Masalah Manchester United musim ini bukan dimulai dari Michael Carrick. Masalahnya dimulai jauh sebelum bola ditendang — di meja negosiasi.

Perhatikan polanya. United gagal mendapatkan Anderson, Fernandes, Tchouameni, Ederson — empat target utama — lalu panik membeli Tielemans yang bahkan tak masuk kriteria usia mereka sendiri. Ini bukan pola klub yang punya rencana. Ini pola klub yang punya daftar belanja tapi tidak punya kemampuan mengeksekusinya. Bedanya tipis, akibatnya fatal.

Bandingkan dengan Tottenham. Klub yang sama-sama ganti pelatih (De Zerbi disebut dalam laporan), yang datang ke Old Trafford sebagai juru kunci, tapi justru pulang dengan pemain yang lebih siap tempur. Spurs menyalip United untuk Fernandes, lalu menambah Tonali £100 juta. Mereka bergerak cepat, mereka membayar, mereka dapat. United? Menawar, menunda, lalu kehilangan.

Atau bandingkan dengan Manchester City — klub yang sedang menunggu vonis 115 dakwaan, yang masa depannya di pengadilan jauh lebih suram dari United, tapi tetap bisa mengamankan Anderson sejak Juli dan kemudian membungkam Anfield 3-0 akhir pekan lalu. Kalau klub yang terancam hukuman berat saja bisa merekrut lebih baik darimu, masalahnya bukan di nasib. Masalahnya di kamu.

Ada juga pelajaran dari kasus Scott McTominay — pemain yang dilepas United, kini berkembang sampai diincar Real Madrid untuk reuni dengan Mourinho di Napoli. United punya kebiasaan aneh: melepas pemain yang kemudian bersinar di tempat lain, sambil mempertahankan pemain yang tak berkembang di Old Trafford. Zirkzee adalah contoh terbarunya: tak ada masa depan, tapi tak ada jalan keluar.

Soal Carrick — adil atau tidak, dia akan jadi korban pertama kalau hasil tak kunjung membaik. Begitulah sepak bola. Tapi mengganti Carrick dengan Conte (atau siapa pun) tanpa memperbaiki mesin rekrutmen sama saja mengganti sopir tanpa memperbaiki mesin mobil yang mogok. United butuh direktur olahraga yang bisa menutup kesepakatan, bukan sekadar menyusun daftar belanja.

Prediksi redaksi? Dua laga ke depan — Atletico dan Leeds — akan menentukan segalanya. Kalah di dua-duanya, dan jeda internasional November bisa jadi momen INEOS menekan tombol reset. Menang di salah satunya, Carrick dapat napas. Tapi napas saja tidak cukup untuk menyelamatkan musim yang sudah dimulai dengan pengakuan kegagalan dari direksi sendiri.

Satu hal yang pasti: untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Manchester United tidak bisa lagi bersembunyi di balik alasan "proses". Direksi mereka sendiri sudah mengaku gagal. Tinggal tunggu: diakui, lalu diperbaiki — atau diakui, lalu diulangi.

Ditulis oleh Bang Sat, redaksi Offside Zone.

Belum ada Komentar untuk "Direksi Manchester United Akui Gagal di Bursa Transfer: Start Terburuk dalam 40 Tahun"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel